Friday, 15 Jumadil Awwal 1444 / 09 December 2022

Pengakuan Bripka RR Terkait Dugaan Motif, Aliran Uang, Hingga Skenario Sambo

Rabu 14 Sep 2022 16:24 WIB

Red: Andri Saubani

Tersangka Bripka Ricky Rizal alias RR mengenakan pakaian tahanan saat mengikuti proses rekonstruksi di rumah dinas Ferdy Sambo di Kompleks Polri Duren Tiga, Jalan Duren Tiga Utara I, Jakarta Selatan, Selasa (30/8/2022). Bripka RR adalah salah satu ajudan Ferdy Sambo yang ikut menjadi tersangka dalam kasus dugaan pembunuhan berencana terhadap Brigadir J. (ilustrasi)

Tersangka Bripka Ricky Rizal alias RR mengenakan pakaian tahanan saat mengikuti proses rekonstruksi di rumah dinas Ferdy Sambo di Kompleks Polri Duren Tiga, Jalan Duren Tiga Utara I, Jakarta Selatan, Selasa (30/8/2022). Bripka RR adalah salah satu ajudan Ferdy Sambo yang ikut menjadi tersangka dalam kasus dugaan pembunuhan berencana terhadap Brigadir J. (ilustrasi)

Foto: Republika/Thoudy Badai
Bripka RR mengungkap skenario yang diatur Sambo seusai pembunuhan Brigadir J.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Bambang Noroyono

Salah satu tersangka kasus dugaan pembunuhan berencana terhadap Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat (J), Ricky Rizal (RR) dalam berita acara pemeriksaan (BAP) membuat sejumlah pengakuan yang sepertinya akan memberatkan Irjen Ferdy Sambo. Melalui pengacaranya, Erman Umar, Bripka RR mengungkapkan beberapa hal seperti tidak melihat adanya peristiwa pelecehan seksual di Magelang sebagaimana pengakuan Putri Candrawathi (istri Sambo), adanya transfer uang hingga, aksi Sambo menjadikan kantor Provos Polri sebagai tempat merencanakan skenario palsu terkait pembunuhan Brigadir J.

Baca Juga

Menurut Erman, Bripka RR mengaku tidak melihat adanya peristiwa pelecehan maupun kekerasan seksual yang dilakukan Brigadir J terhadap Putri Candrawathi di Magelang, Jawa Tengah (Jateng). Bripka RR dalam BAP mengaku hanya melihat adanya semacam pertengkaran antara Brigadir J dan tersangka Kuwat Maruf (KM), pada Kamis (7/7/2022).

“Kalau menyangkut pelecehan, kejadian yang di Magelang, dia tidak ada melihat itu. Dia tidak mengetahui itu. Dan dia tidak ada orang yang di Magelang, menyampaikan itu. Ibu (PC) juga tidak ada menyampaikan itu (kepada RR),” ujar Erman, di Bareskrim Polri, Jakarta, Selasa (13/9/2022).

Erman mengatakan, pengakuan kliennya di dalam BAP, hanya menceritakan soal adanya peristiwa ketegangan yang terjadi antara Kuwat Maruf dan Brigadir J di Magelang. Namun ketegangan antara pembantu rumah tangga (ART) dan ajudan itu pun tak diketahui RR apa soalnya.

Menurut Erman, RR sempat menceritakan bertanya kepada Kuwat Maruf, maupun Brigadir J apa sebab keduanya tampak berselisih. Akan tetapi, kata Erman, RR juga tak menangkap penjelasan Kuwat Maruf ataupun Brigadir J yang mengarah ke adanya perbuatan asusila ataupun amoral lainnya.

“Yang ada adalah semacam pertengkaran. Kayak Joshua (J) mau naik melihat Ibu (PC). Sementara Ibu dalam kondisi menangis di atas. Meluk Susi (ART). Dan Joshua ditegur sama Kuwat,” kata Erman.

Diketahui, dugaan pelecehan atau kekerasan seksual terhadap Putri Candrawathi oleh Brigadir J saat ini dijadikan dasar motif pembunuhan yang dilakukan oleh Ferdy Sambo cs. Latar belakang kekerasan seksual itu bahkan sebelumnya telah menjadi salah satu poin kesimpulan penyelidikan bersama, Komnas HAM dan Komnas Perempuan dalam kasus ini.

“Berdasarkan temuan faktual dalam peristiwa kematian Brigadir Joshua (J), disampaikan bahwa, terjadinya peristiwa pembunuhan Brigadir J, merupakan tindakan extra judicial killing, yang memiliki latar belakang adanya dugaan kekerasan seksual,” kata Ketua Tim Investigas Komnas HAM, Mohammad Choirul Anam, Kamis (1/9/2022).

Selain soal dugaan kekerasan seksual, Bripka RR juga mengungkapkan Ferdy Sambo menjadikan Kantor Provos di Mabes Polri sebagai tempat untuk mengatur, dan membuat skenario palsu kematian J. Bripka RR, dalam pengakuannya mengungkapkan terpaksa turut terlibat dalam pembuatan rekayasa pembunuhan berencana yang terjadi di rumah dinas Kompleks Polri Duren Tiga di Jakarta Selatan (Jaksel) itu.

Pengacara RR, Erman Umar mengatakan, usai terjadinya pembunuhan terhadap Brigadir J di rumah dinas Irjen Sambo, Jumat (8/7/2022), mantan Kadiv Propam Polri itu mengumpulkan semua ajudannya. “Mereka (ajudan) dikumpulkan semua di Provos,” terang Erman.

“RR juga ikut diperintah (Sambo) ke sana (kantor provos). Di situ, sudah banyak propam,” kata Erman, menambahkan.

Di kantor provos tersebut, kata Erman, RR menceritakan tentang pembuatan skenario palsu untuk menyamarkan kasus kematian Brigadir J itu. Erman menerangkan, RR, dalam skenario itu diperintah untuk menuruti versi cerita Sambo tentang terjadinya tembak-menembak antara Bharada Richard Eliezer (RE), dengan Brigadir J, di rumah dinas Duren Tiga 46.

“Dalam skenario itu RR disebutkan sembunyi di balik kulkas saat melihat RE, dan Joshua tembak-menembak,” kata Erman.

Di kantor provos itu juga, kata Erman, para ajudan, termasuk RR diminta untuk mendatangi Polres Metro Jaksel. Di kantor polisi wilayah itu, sedang dilakukan proses formalitas pemeriksaan terhadap saksi-saksi terkait dengan peristiwa yang terjadi di Duren Tiga itu.

Pengakuan RR, kata Erman, dalam pemeriksaan tersebut, pun tak ada tanya jawab. Yang ada, kata RR, diceritakan Erman, hanya diminta untuk menandatangani BAP.

“Setelah di-briefing di Provos, mereka ini (ajudan) termasuk RR, juga diperiksa di Polres. Tetapi jawabannya sudah disiapkan. Sudah ada jawabannya,” kata Erman.

Menurut dia, RR mengakui tak berdaya dengan perintah Sambo untuk mengikuti semua pembuatan skenario tersebut. Akan tetapi, kata Erman, setelah 8 Agustus 2022, keluarga RR, termasuk istrinya, meminta agar Bripka RR, mengungkapkan apa yang sebenarnya.

 

“Memang dia (RR) bilang, yang sebelum tanggal delapan itu, memang rekayasa. Bukan yang sebenarnya. Ada peran penting keluarga, istrinya agar RR ini menceritakan yang sebenarnya,” ujar Erman.

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA