Friday, 8 Jumadil Awwal 1444 / 02 December 2022

Polri Sebut Polemik Soal Harga BBM Masih Wajar

Rabu 14 Sep 2022 16:15 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Sejumlah mahasiswa berunjuk rasa tolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di depan Kantor DPRD Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (14/9/2022). Dalam aksi tersebut mereka menolak kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi serta mendesak pemerintah secara serius menangani mafia BBM.

Sejumlah mahasiswa berunjuk rasa tolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di depan Kantor DPRD Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (14/9/2022). Dalam aksi tersebut mereka menolak kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi serta mendesak pemerintah secara serius menangani mafia BBM.

Foto: ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho
Harga BBM masih bisa naik bila harga minyak capai 105 dolar per barel.

REPUBLIKA.CO.ID, Polri menilai polemik atau silang pendapat terhadap keputusan pemerintah menyesuaikan harga BBM merupakan hal yang wajar.

"Tidak ada kebijakan yang sempurna, karena itu silang pendapat atas penyesuaian harga BBM merupakan hal yang wajar dalam demokrasi," kata Kadiv Humas Polri Irjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo, M.Hum., M.Si., M.M., saat membuka FGD "Penyesuaian Harga BBM Dalam Narasi Pembangunan di Indonesia", di Jakarta, Rabu (14/9/2022) siang.

Dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol. Dr Ahmad Ramadhan, S.H., M.H., Dedi meyakini penyesuaian harga BBM akan memberikan dampak ke berbagai sektor. 

Namun, menurutnya, pemerintah telah mengantisipasi dengan menyiapkan berbagai program afirmatif bagi masyarakat yang terdampak.

 

Belum Cukup

Sementara itu, Staf Khusus Menkeu, Yustinus Prastowo menjelaskan, berdasarkan perhitungan sementara subsidi BBM telah naik 3X lipat dari perkiraan sebelumnya.

"APBN menggarkan Rp152,5 triliun, tetapi realisasi Rp502,4 triliun, naik Rp 349,9 triliun," ungkap Prastowo.

Menurut Prastowo subsidi Rp 502,4 triliun itu tidak tepat sasaran, karena dinikmati dunia usaha (85% lebih untuk solar dan pertalite), rumah tangga mampu, dan tidak lebih 5% oleh masyarakat miskin.

Padahal, lanjut Prastowo, besarnya subsidi itu setara untuk membangun 3.333 RS tipe menengah, 3.501 ruas tol baru, 227.886 SD, dan 41.666 puskesmas.

"Karena itu, kebijakan penyesuaian harga BBM diperlukan untuk menurunkan beban tambahan subsidi dan kompensasi, serta pengalihan subsidi yang lebih tepat sasaran dan adil," tegas Prastowo.

Staf Khusus Menkeu itu mengingatkan, besaran subsidi BBM masih berpotensi naik jika harga minyak di pasar global mencapai 105 dolar per barel.

Jika harga minyak 105 dolar AS, maka beban subsidi BBM yg disesuaikan mencapai Rp 649,5triliun, atau kurang atau Rp147,1 triliun. Sementara itu, jika harga minyak di angka 97 dolar, beban subsidi mencapai Rp 591,7 triliun atau kurang Rp 89,3 triliun.

Polri Sebut Polemik Soal Harga BBM Masih Wajar

Prastowo meminta Polri untuk membantu mengawasi agar pemberian subsidi energi bisa tepat sasaran, termasuk dalam penyaluran program bantuan sosial.

Menanggapi hal itu Dirtipidter Bareskrim Polri Brigjen Pol. Pipit Rismanto, S.I.K.

"Polri dapat membantu edukasi, pengawalan bansos agar tepat sasaran, dan melakukan penegakan hukum bila ada penyimpangan terhadap proses-proses," ujarnya.

Jaga Daya Beli

Staf Khusus Menteri PPN/Kepala Bappenas Dr. Ir  Chairil Abdini M.Si. menjelaskan pemerintah perlu mengatur harga BBM karena sifat harga minyak dunia yang sangat fluktuatif.

Ia menjelaskan, kalau pemerintah tidak mengatur harga BBM maka risikonya akan sangat besar sekali.

"Akan terjadi oil schok sehingga inflasi akan tinggi dan memberatkan masyarakat," tutur Chairil.

Staf Khusus Menteri PPN itu menegaskan, bahwa pengaturan harga BBM oleh pemerintah semata-mata untuk menjaga APBN tetap sehat, menjaga inflasi, dan daya beli masyarakat.

Ketua Dewan Penasihat Hippindo, Handaka Santosa, bersyukur pemerintah memberikan bantalan sosial terkait penyesuaian harga BBM sehingga daya beli masyarakat akan terjaga. "Bagi UMKM ini menguntungkan karena daya beli masyarakat masih terjaga," jelas Handaka.

Ia berharap masyarakat menengah atas yang tidak memperoleh program bantalan sosial tetap mau berbelanja sehingga tetap menghidupkan aktivitas ekonomi masyarakat. 

 

 

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA