Wednesday, 6 Jumadil Awwal 1444 / 30 November 2022

MER-C Ajak Organisasi Pelajar dan Pemuda Tolak Timnas Israel

Sabtu 10 Sep 2022 09:58 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil

MER-C Ajak Organisasi Pelajar dan Pemuda Tolak Timnas Israel. Foto ilustrasi: Ribuan umat Muslim di Kota Padang, Sumaatra Barat melakukan aksi //long march// dari Masjid Nurul Iman menuju Kantor Gubernur Sumbar, Ahad (13/5). Aksi yang dilakukan sejumlah ormas Islam ini menolak pengakuan AS terhadap Yerussalem sebagai Ibu Kota Israel.

MER-C Ajak Organisasi Pelajar dan Pemuda Tolak Timnas Israel. Foto ilustrasi: Ribuan umat Muslim di Kota Padang, Sumaatra Barat melakukan aksi //long march// dari Masjid Nurul Iman menuju Kantor Gubernur Sumbar, Ahad (13/5). Aksi yang dilakukan sejumlah ormas Islam ini menolak pengakuan AS terhadap Yerussalem sebagai Ibu Kota Israel.

Foto: Sapto Andika Candra / Republika
Organisasi pemuda dan pelajar diajak MER-C tolak Timnas Israel.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menyikapi rencana kedatangan tim nasional (timnas) sepak bola Israel ke Indonesia pada tahun 2023 mendatang, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia terus mengajak berbagai elemen anak bangsa untuk melakukan gerakan penolakan termasuk pada kalangan pelajar dan pemuda Indonesia.

"Intinya MER-C mengajak organisasi pelajar dan pemuda untuk peduli dengan penderitaan bangsa Palestina dan kritis dengan kebijakan pemerintah yang merugikan Palestina dalam mencapai kemerdekaannya," kata Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad saat menerima kunjungan dan berdiskusi dengan Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Presiden Organization of Islamic Cooperation (OIC) Youth Indonesia pada Rabu (7/9/2022)

Baca Juga

Sarbini mengatakan, MER-C juga mengajak para pemuda generasi penerus bangsa ini untuk secara bersama menolak kedatangan timnas Israel ke Indonesia. Juga secara bersama seluruh elemen anak bangsa yang konsisten dengan Palestina untuk secara kolektif meminta kepada pemerintah agar tidak memberi visa kepada timnas Israel.

MER-C memang memberikan perhatian khusus terhadap kedatangan timnas Israel karena memandang lolosnya timnas Israel akan menjadi ujian berat bangsa Indonesia untuk membuktikan kekonsistenannya dalam pembelaan terhadap Palestina dan penolakannya atas segala bentuk penjajahan seperti yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945. Apabila timnas Israel bisa lolos ke Indonesia, maka akan menjadi kekalahan konstitusi dan sejarah bangsa Indonesia.

"Walaupun sebagian masyarakat kita mengatakan bahwa tidak ada kaitan antara olahraga dan politis, tapi kami memandang bahwa kalau timnas Israel bisa lolos, maka ini adalah kekalahan total kita, kekalahan konstitusi kita, kekalahan sejarah buat kita,” ujar Sarbini dalam siaran pers MER-C yang diterima Republika, Jumat (9/9/2022).

MER-C menyampaikan, dalam pertemuan tersebut, PB PII dan OIC Youth Indonesia menyatakan kekonsistenan mereka dalam mendukung perjuangan Palestina dan sepakat dengan wacana tolak timnas Israel yang digulirkan oleh MER-C.

"PB PII konsisten mendukung perjuangan Palestina. Untuk itu, kami akan melakukan diskusi internal menyikapi rencana timnas Israel ke Indonesia dan kajian-kajian rutin tentang Palestina. Selanjutnya PB PII akan melakukan konsolidasi serta kolaborasi untuk aksi bersama agar pemerintah melihat adanya penolakan di masyarakat terhadap kedatangan timnas Israel,” ujar Ketua Departemen Diplomasi Internasional, PB PII, Septian Maulid Tiwar.

Sementara itu, Presiden OIC Youth Indonesia, Astrid Nadya Rizqita juga sepakat dan menyambut baik wacana penolakan timnas Israel yang disampaikan oleh MER-C.

“Kami sepakat dan menyambut baik serta sangat mendukung teman-teman yang akan membuat aksi dan kajian-kajian menyikapi hal ini. Di forum-forum OIC Youth kami juga kerap menyuarakan aspirasi dan penderitaan Palestina,” ujarnya.

Lebih lanjut, Astrid memaparkan bahwa sikap penolakan ini memiliki landasan yang jelas dan harus terus dikawal. Selama landasannya jelas dan itu ada di pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) yang mendukung perdamaian.

"Pada Sidang Umum PBB tahun 2020, sudah jelas bahwa kita masih berhutang terhadap Palestina. Jadi harus ada tindak lanjutnya. Ini harus kita kawal terus, jangan sampai tahun depan kita kecolongan," ujar Astrid.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA