Wednesday, 17 Rajab 1444 / 08 February 2023

Jerman Yakin Bisa Hadapi Musim Dingin di Tengah Krisis Energi

Kamis 08 Sep 2022 11:20 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Esthi Maharani

Kanselir Jerman Olaf Scholz mengatakan, dia yakin negaranya dapat bertahan menghadapi musim dingin yang akan datang di tengah krisis pasokan energi. Rusia diketahui telah menangguhkan pengiriman gas ke negara tersebut.

Kanselir Jerman Olaf Scholz mengatakan, dia yakin negaranya dapat bertahan menghadapi musim dingin yang akan datang di tengah krisis pasokan energi. Rusia diketahui telah menangguhkan pengiriman gas ke negara tersebut.

Foto: AP Photo/Michael Probst
Jerman yakin bisa bertahan menghadapi musim dingin di tengah krisis energi

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN – Kanselir Jerman Olaf Scholz mengatakan, dia yakin negaranya dapat bertahan menghadapi musim dingin yang akan datang di tengah krisis pasokan energi. Rusia diketahui telah menangguhkan pengiriman gas ke negara tersebut.

Scholz mengungkapkan, pemerintahannya akan terus bergerak untuk secepat mungkin melepaskan ketergantungan pasokan energi dari Rusia. Dia menyebut, saat ini Jerman tidak hanya berlomba mengisi tangki penyimpinan gasnya, tapi juga mempercepat pembangunan untuk menerima gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).

Baca Juga

“Karena kita memulai begitu dini, ketika hal itu bahkan tidak menjadi sebuah kesadaran masalah besar di Jerman. Kita sekarang berada dalam situasi di mana kita dapat menghadapi musim dingin dengan gagah dan berani. Negara kita dapat bertahan,” kata Scholz saat berbicara di parlemen Jerman, Rabu (7/9/2022).

Dia mengungkapkan, pemerintahannya telah menjalin komunikasi dengan sejumlah negara sahabat, seperti Belanda dan Belgia, agar mereka memperluas terminal LNG dan kapasitas pipa dengan Prancis. Dengan demikian, mereka dapat menyuplai gas ke Jerman. “Apa yang telah kami capai dengan terminal di utara dan dengan terminal di pantai Eropa barat Jerman, kami akan menjamin pasokan energi yang aman untuk Jerman,” ucapnya.

Pada 31 Agustus lalu, perusahaan gas Rusia, Gazprom, telah mengumumkan penangguhan total pasokan gas ke Jerman yang disalurkan lewat pipa Nord Stream. “Pasokan (gas) lewat Nord Stream sepenuhnya terhenti karena pekerjaan pencegahan dimulai hari ini di unit kompresor gas,” kata Gazprom dalam sebuah pernyataan singkat.

Awalnya Gazprom menyebut, pekerjaan di unit kompresor itu bakal berlangsung hingga 3 September lalu. Namun Gazprom telah mengumumkan bahwa penangguhan pasokan gas via Nord Stream masih akan berlanjut tanpa batas waktu yang ditentukan. Kepala Badan Jaringan Federal Jerman Klaus Mueller menilai, pekerjaan pemeliharaan Nord Stream hanyalah dalih Moskow untuk menggunakan pasokan energi sebagai ancaman. Mueller menilai, Rusia membuat “keputusan politik” setiap mengumumkan adanya “pekerjaan pemeliharaan” Nord Stream.

Jerman adalah salah satu negara yang sangat bergantung pada suplai gas Rusia. Menurut Badan Jaringan Federal Jerman, sektor industri di negara tersebut mengonsumsi gas 21,3 persen lebih sedikit pada Juli lalu dibandingkan rata-rata bulan yang sama dari 2018 hingga 2021. Menyadari ketergantungan pasokan gas dari Rusia, Jerman kini tengah berusaha mencari alternatif lain.

Gazprom juga telah menangguhkan pasokan gas ke perusahaan energi Prancis, Engie. Hal itu dilakukan karena Engie tak kunjung melakukan pembayaran. Saat ini Jerman, Prancis, Italia, dan beberapa negara Eropa lainnya telah menyerukan warganya untuk melakukan penghematan energi menjelang musim dingin.

Saat ini harga energi di Eropa mengalami lonjakan. Hal itu karena Rusia telah membatasi pasokan gasnya ke wilayah tersebut sejak pecahnya konflik di Ukraina. Bulan lalu Gazprom mengumumkan bahwa mereka akan memangkas pasokan gas alam lewat pipa Nord Stream hingga 20 persen dari kapasitas atau menjadi 33 juta meter kubik per hari. Gazprom beralasan, langkah itu diambil karena adanya perbaikan peralatan.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA