Tuesday, 12 Jumadil Awwal 1444 / 06 December 2022

Pakar BRIN: Capres 2024 Harus Punya Rekam Jejak dan Kompetensi

Kamis 08 Sep 2022 05:21 WIB

Red: Erik Purnama Putra

Peneliti Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Siti Zuhro memberikan paparan saat menjadi pembicara Sarashan Kebangsaan di Markas Syarikat Islam, Jakarta Pusat, Ahad (3/7/2022).

Peneliti Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Siti Zuhro memberikan paparan saat menjadi pembicara Sarashan Kebangsaan di Markas Syarikat Islam, Jakarta Pusat, Ahad (3/7/2022).

Foto: Prayogi/Republika.
Airlangga adalah sosok yang tidak pernah mencari perhatian publik dengan gimik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berbagai lembaga survei terus merilis hasil survei terbarunya setiap dua atau tiga bulan. Namun, banyak juga yang menyebutkan bahwa parameter pemimpin Indonesia ke depan bukan hanya hasil survei, melainkan harus dilihat dari berbagai aspek, termasuk kepemimpinan.

Pakar politik dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Siti Zuhro mengatakan, calon presiden (capres) yang memiliki rekam jejak dan kompetensi adalah kriteria utama untuk Pemilu 2024. "Saya mengutamakan calon yang betul-betul ditelisik tentang kompetensi, kapasitas, dan integritas, ketimbang istilah popularitas dan tingkat elektabilitas," kata Siti di Jakarta, Rabu (7/9/2022).

Menurut dia, capres yang muncul saat ini harus dilihat dari latar belakang, kiprahnya, serta visi dan misinya untuk kesejahteraan Indonesia ke depan. Siti menganggap, salah satu sosok capres yang dianggap sudah selesai secara internal dan terus menunjukkan kinerja positif yaitu, Airlangga Hartarto.

Pendangan serupa disampaikan anggota Fraksi Golkar DPR, Dedi Mulyadi. Menurut dia, Airlangga adalah sosok yang tidak pernah mencari perhatian publik dengan gimik dan pencitraan. Melainkan, sosok yang terus bekerja membantu Presiden Jokowi dan menunjukkan hasil kerja yang baik.

Dedi mengatakan, pola masyarakat saat ini sudah mulai berubah. Pasalnya, kini masyarakat bisa terpengaruh dengan apa yang dilihat di berbagai media sosial. "Kalau tidak konsisten orang akan menganggap itu pencitraan. Masyarakat sekarang sudah bisa menilai mana yang pencitraan, mana yang lahir dari hati nurani," kata Dedi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA