Rabu 07 Sep 2022 00:48 WIB

PBB: Somalia di Ambang Bencana Kelaparan

Menurut PBB, terdapat 7,8 juta orang yang menghadapi krisis kelaparan di Somalia.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Friska Yolandha
Maryan Madey, yang melarikan diri dari wilayah Shabelle Bawah yang dilanda kekeringan, menggendong putrinya yang kekurangan gizi Deka Ali, 1, di sebuah kamp untuk para pengungsi di pinggiran Mogadishu, Somalia pada Sabtu, 3 September 2022. Jutaan orang di Tanduk Wilayah Afrika akan kelaparan karena kekeringan, dan ribuan orang telah meninggal, dengan Somalia terutama yang paling terpukul karena sumber paling sedikit 90 persen gandumnya dari Ukraina dan Rusia sebelum Rusia menginvasi Ukraina.
Foto: AP Photo/Farah Abdi Warsameh
Maryan Madey, yang melarikan diri dari wilayah Shabelle Bawah yang dilanda kekeringan, menggendong putrinya yang kekurangan gizi Deka Ali, 1, di sebuah kamp untuk para pengungsi di pinggiran Mogadishu, Somalia pada Sabtu, 3 September 2022. Jutaan orang di Tanduk Wilayah Afrika akan kelaparan karena kekeringan, dan ribuan orang telah meninggal, dengan Somalia terutama yang paling terpukul karena sumber paling sedikit 90 persen gandumnya dari Ukraina dan Rusia sebelum Rusia menginvasi Ukraina.

REPUBLIKA.CO.ID, MOGADISHU -- Kepala Kantor PBB untuk Urusan Kemanusiaan Martin Griffiths mengatakan Somalia berada di ambang bencana kelaparan. Hal itu disebabkan kekeringan parah yang melanda negara tersebut.

“Kelaparan sudah di ambang pintu dan kami menerima peringatan terakhir,” kata Griffiths dalam konferensi pers di Mogadishu, Senin (5/9/2022). Dia mengungkapkan, kelaparan parah kemungkinan terjadi di dua wilayah, yakni di Somalia tengah dan selatan.

Baca Juga

Griffiths, yang memulai kunjungannya ke Somalia pada Kamis (1/9/2022) lalu, mengaku sangat terkejut dan terenyuh melihat kondisi di Somalia. “Waktu terus berjalan, ia akan segera habis,” ucapnya, memperingatkan tentang perlunya untuk segera menyalurkan bantuan kemanusiaan ke negara tersebut.

Menurut PBB, terdapat 7,8 juta orang yang menghadapi krisis kelaparan di Somalia atau sekitar setengah dari populasi negara tersebut. Sekitar 1 juta warga di sana telah melakukan perjalanan dan meninggalkan rumah mereka untuk mencari makanan serta air.

Pada April lalu, Program Pangan Dunia (WFP) mengatakan, negara-negara di wilayah Afrika Timur tengah menghadapi bencana kekeringan terburuk dalam empat dekade terakhir. Situasi itu menimbulkan risiko munculnya krisis pangan atau kelaparan.

Direktur Regional WFP untuk Afrika Timur Michael Dunford mengungkapkan, musim hujan yang harusnya turun pada Maret hingga Mei gagal terwujud. kekeringan telah menghabiskan mekanisme penanggulangan orang-orang yang sekarang harus bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup. Keluarga di wilayah ini terbiasa dengan kekeringan, tetapi ini adalah kondisi terkering yang mereka hadapi dalam empat dekade,” katanya, 7 April lalu.

Dia mengungkapkan, kekeringan sangat menghancurkan komunitas pastoral yang bergantung pada hewan untuk mata pencaharian mereka. Dunford mengatakan, sekitar 3 juta ternak diperkirakan telah mati akibat kekurangan makan dan air. “Dalam perjalanan terakhir saya ke daerah yang terkena dampak kekeringan di Kenya dan Ethiopia awal tahun ini, ternak mati berserakan di jalan dan tanaman hancur total. Adegan serupa dapat ditemukan di Somalia,” ucapnya.

Menurut Dunford, ketergantungan negara-negara Afrika Timur pada impor dari negara-negara Laut Hitam seperti Ukraina akan memperburuk situasi di wilayah tersebut. Sebab sejak agresi Rusia ke Ukraina, terdapat kenaikan harga beberapa komoditas, termasuk gandum. “Sementara perhatian dunia beralih ke Ukraina, penting bagi kita untuk tidak melupakan Afrika Timur dan membiarkan dana bantuan kemanusiaan mengering tepat pada saat paling dibutuhkan,” katanya.

Ia mengungkapkan, WFP membutuhkan dana 327 juta dolar AS untuk mendukung 4,5 juta orang. Pada 6 April lalu, Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) mengumumkan akan mengucurkan dana sebesar 114 juta dolar AS dalam bentuk bantuan kemanusiaan untuk membantu Ethiopia, Kenya, dan Somalia.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement