Kamis 01 Sep 2022 18:15 WIB

Terjadi Bentrokan Kelompok Syiah Lagi di Irak

Setelah ulama syiah terkemuka Moqtada al-Sard mengumumkan mundur dari politik.

Rep: Lintar Satria/ Red: Friska Yolandha
Pengikut ulama Syiah Muqtada al-Sadr meneriakkan slogan-slogan selama salat ad, Irak, Jumat di ruang terbuka di Kota Sadr, BaghdJumat, 15 Juli 2022. Al-Sadr adalah ulama populis, yang muncul sebagai simbol perlawanan terhadap AS. pendudukan Irak setelah invasi 2003.
Foto: AP Photo/Hadi Mizban
Pengikut ulama Syiah Muqtada al-Sadr meneriakkan slogan-slogan selama salat ad, Irak, Jumat di ruang terbuka di Kota Sadr, BaghdJumat, 15 Juli 2022. Al-Sadr adalah ulama populis, yang muncul sebagai simbol perlawanan terhadap AS. pendudukan Irak setelah invasi 2003.

REPUBLIKA.CO.ID, BAGHDAD -- Petugas keamanan di Irak mengatakan terjadi bentrokan antara milisi syiah yang bersaing di Kota Basra dari Rabu (31/8/2022) malam sampai Kamis (1/9/2022) pagi. Beberapa orang menjadi korban jiwa dan terluka.

Bentrokan ini merupakan kekerasan terbaru dari krisis politik yang melanda Irak. Setelah ulama syiah terkemuka Moqtada al-Sard mengumumkan mundur dari politik setelah berselisih dengan partai dan paramiliter yang didukung Iran.

Baca Juga

Petugas keamanan itu mengatakan bentrokan terjadi di pusat Basra, pusat produksi minyak Irak. Mereka tidak mengumumkan berapa jumlah korban tewas dalam kejadian itu.

Pada Selasa (30/8/2022) lalu Iran memutuskan menutup perbatasan negaranya dengan Irak. Langkah itu diambil setelah Baghdad dilanda kerusuhan pascamundurnya ulama Syiah Irak, Muqtada al-Sadr, dari aktivitas perpolitikan.

Selain menutup perbatasan, Wakil Menteri Dalam Negeri Iran Majid Mirahmadi juga telah meminta warganya untuk tidak melakukan perjalanan Arbain, yakni momen peringatan 40 hari wafatnya Husein bin Ali. Acara tersebut biasanya menarik jutaan umat Syiah ke Irak setiap tahunnya.

“Karena keselamatan peziarah Iran adalah prioritas bagi kami, warga kami perlu untuk sementara menahan diri dari bepergian ke Irak sampai pemberitahuan lebih lanjut,” kata Mirahmadi, dikutip laman Iran Front Page, Selasa (30/8/2022).

Kedutaan Besar (Kedubes) Iran di Irak juga telah meminta warga Iran untuk tidak melakukan perjalanan ke tiga kota di Irak. “Mengingat jam malam yang diberlakukan oleh Pemerintah Irak yang terhormat, semua peziarah Iran dan rekan senegaranya, yang hadir di kota-kota suci Karbala dan Najaf, dengan hormat diminta untuk mencegah bepergian ke kota-kota Baghdad, Kadhimiya, dan Samarra sampai pemberitahuan selanjutnya,” kata Kedubes Iran.

Pada Senin (29/8/2022) lalu, ulama Syiah Irak, Muqtada al-Sadr, mengumumkan bahwa dia akan berhenti dari aktivitas politik. Langkah itu merupakan respons atas kebuntuan politik yang pelik dan berkepanjangan di negara tersebut.

“Dengan ini saya mengumumkan penarikan terakhir saya,” kata al-Sadr dalam sebuah pernyataan yang diunggah di akun Twitter-nya.

Dia secara terbuka mengkritik sesama pemimpin politik Syiah karena gagal mengindahkan seruannya untuk reformasi. Al-Sadr tak menjelaskan tentang penutupan kantornya. Namun, dia mengungkapkan, lembaga budaya dan agama akan tetap buka atau beroperasi.

Partai al-Sadr, Blok Sadris, memenangkan kursi terbesar di parlemen dalam pemilu yang digelar pada Oktober tahun lalu. Namun, pada Juni lalu, dia menarik semua anggota partainya dari parlemen. Hal tersebut dilakukan setelah al-Sadr gagal membentuk pemerintahan pilihannya yang akan mengecualikan pesaingnya yang disokong Iran. 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement