Kamis 01 Sep 2022 05:37 WIB

Kembangkan Kopi Lokal, Penikmat Kopi Asal Cilacap Raup Omzet Rp 15 Juta per Bulan

Berawal dari memanfaatkan lahan kosong, pemuda di Cilacap berhasil budidaya kopi

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Gita Amanda
Kebun kopi milik pemuda asal Desa Karanggintung, Kabupaten Cilacap. Produk dari Kopi Sugara ini didorong oleh Pemerintah Desa Karanggintung untuk menjadi produk unggulan desa.
Foto: Dok. Kopi Sugara
Kebun kopi milik pemuda asal Desa Karanggintung, Kabupaten Cilacap. Produk dari Kopi Sugara ini didorong oleh Pemerintah Desa Karanggintung untuk menjadi produk unggulan desa.

REPUBLIKA.CO.ID, CILACAP -- Berawal dari upaya untuk memanfaatkan lahan kosong milik keluarga, pemuda asal Desa Karanggintung, Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap, berhasil mendorong budidaya kopi di desanya.

Sebagai pecinta kopi, Despa Damar Sugara (22 tahun), bercita-cita memiliki kebun kopi sendiri, sehingga pada tahun 2018 ia mulai menanam kopi robusta di lahan kosong milik keluarga. Keberhasilan Damar menanam di lahan sebesar 0,5 hektare (ha) tersebut kemudian mulai menarik para petani di desa tersebut untuk ikut budidaya kopi.

"Awal tanam setengah hektar yang lahan keluarga. Sekarang sudah banyak petani yang gabung sekitar 8-10 petani, dan lahannya berkembang menjadi 2 ha," ungkap Damar kepada Republika.

Menurut Damar, para petani tertarik untuk ikut budidaya kopi karena melihat keuntungan dari usaha yang dirintis Kopi Sugara milik Damar. Sebelumnya para petani di desa tersebut hanya bercocok tanam secara musiman, ketika sedang ramai kebun karet, mereka akan menanam karet. Akan tetapi, ketika panen, mereka akan bingung memasarkan hasil panen mereka karena tidak ada yang menyerap.

Berbeda dengan budidaya kopi yang digalakkan Damar, ia pun meyakinkan petani bahwa hasil panen mereka akan terserap ke pihaknya. Tidak hanya budidaya kopi, Damar juga melakukan pengolahan kopi dan menjualnya dalam bentuk greenbean, bubuk kopi hingga kopi sachet.

"Jadi para petani beli bibit kopi dari kami yang berasal dari balai pertanian, lalu ketika panen dua tahun kemudian kami siap menampung," tutur Damar.

photo
Kebun kopi milik pemuda asal Desa Karanggintung, Kabupaten Cilacap. Produk dari Kopi Sugara ini didorong oleh Pemerintah Desa Karanggintung untuk menjadi produk unggulan desa. - (Dok. Kopi Sugara)

Sebagai penikmat kopi, ia meyakini bahwa merintis usaha kopi akan menguntungkan. Apalagi saat ini penikmat kopi semakin marak, sehingga permintaan kopi diyakini akan terus tinggi. Terbukti, selama dua tahun terakhir ketika ia mulai memanen, mengolah hingga memasarkan, penjualan kopinya sudah laris manis di kota-kota besar seperti Jakarta, Bogor, Bekasi, Bandung, Karawang dan Probolinggo. Kopi Sugara dipasarkan secara langsung ke individu penikmat kopi dan kedai kopi di kota-kota tersebut.

"Omzet kami baru sekitar Rp 15 juta sebulan, dan menyerap 10 tenaga kerja di luar petani," kata Damar.

Tidak hanya melalui pemasaran ke kedai-kedai kopi, Kopi Sugara yang tengah membentuk badan hukum CV ini kini mulai ikut berbagai kegiatan festival UMKM untuk memasarkan kopi khas Desa Karanggintung ini. Rencananya dalam waktu dekat, Kopi Sugara akan ikut kegiatan Pengusaha Kopi di Cilacap.

Sebagai usaha rintisan baru di desanya, Kopi Sugara didukung penuh oleh Pemdes Karanggintung dan didorong untuk menjadi produk unggulan khas desa tersebut. Menurut Sekretaris Desa Karanggintung, Aris Yulianto, upaya yang dilakukan Pemdes agar mengembangkan budidaya kopi ini dengan cara mengajukan bantuan pupuk, pestisida hingga bibit ke Dinas Pangan dan Perkebunan (Dispabun) Kabupaten Cilacap.

"Kami ingin mendorong kopi robusta ini jadi produk unggulan khas desa, karena sebelumnya kami tidak punya produk unggulan." ungkap Aris.

Selain itu, pihaknya juga memfasilitasi agar produk kopi robusta milik Damar ini mendapatkan nomor PIRT (Produksi Industri Rumah Tangga), yang akan memudahkan pemasaran produk UMKM ini ke pasar swalayan. Untuk tahun depan, Pemdes pun berencana melakukan penyediaan bibit kopi secara gratis agar para petani lokal tertarik membudidayakan kopi.

"Karena petani yang berminat banyak, tapi terbatasi permodalan. Makanya kami ajukan bantuan bibit ke Dispabun untuk tahun depan," kata Aris.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement