Saturday, 9 Jumadil Awwal 1444 / 03 December 2022

Rusia: Gerakan Non-Blok Punya Potensi Atasi Isu Internasional

Senin 29 Aug 2022 18:02 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Friska Yolandha

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan, Gerakan Non-Blok (GNB) mempunyai potensi positif untuk menyelesaikan masalah internasional.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan, Gerakan Non-Blok (GNB) mempunyai potensi positif untuk menyelesaikan masalah internasional.

Foto: AP/Russian Foreign Ministry Press S
GNB memiliki 120 suara di PBB.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan, Gerakan Non-Blok (GNB) mempunyai potensi positif untuk menyelesaikan masalah internasional. Menurut dia, karena memiliki 120 suara di PBB, GNB atau dikenal pula dengan istilah Non-Aligned Movement (NAM), mampu untuk secara langsung mempengaruhi keputusan di badan dunia tersebut.

Komentar Lavrov tentang GNB terlontar saat diwawancara stasiun televisi Zvezda. “Potensinya positif dan menggembirakan, terutama dalam konteks upaya yang dilakukan hari ini untuk membentuk tatanan dunia yang multipolar, adil, dan demokratis,” ujar Lavrov saat ditanya tentang potensi GNB dalam penyelesaian isu internasional, dikutip laman kantor berita Rusia, TASS, Senin (29/8/2022).  

Baca Juga

Dia menjelaskan, GNB adalah proses objektif yang secara historis dikondisikan oleh tak meratanya perkembangan internasional. “Daerah yang dulunya 'terbelakang' di planet ini, kini menjadi 'mesin' ekonomi global, pusat pertumbuhan ekonomi baru, kekuatan finansial dengan pengaruh politik yang meningkat. Cina, India, Mesir, Turki, Meksiko, Brasil, Argentina, negara-negara Afrika menjadi pilar tatanan dunia yang dibentuk secara objektif. Era membangun multipolaritas sejati akan lama. Cina dan Turki berpartisipasi dalam proses ini tanpa menjadi bagian dari Gerakan Non-Blok. Mereka menjalin kerja sama yang cukup erat dengannya," tutur Lavrov.

Terkait situasi internasional saat ini, Lavrov mengatakan, Barat memaksa semua negara untuk bergabung dengan program “anti-Rusia”, termasuk di dalamnya penerapan sanksi dan boikot. Namun negara GNB tak terburu-buru menuruti permintaan tersebut. “Anggota GNB tidak terjerumus dalam pemerasan ini,” ucapnya.

Kendati demikian, Lavrov tak menampik, terdapat sejumlah negara GNB yang akhirnya menyerah pada tekanan Barat dan bergabung dalam gerakan anti-Rusia. "Namun tekanan pada mereka (negara GNB) terus berlanjut. Tidak dapat disangkal bahwa trik yang benar-benar terlarang akan digunakan,” kata Lavrov.

Hingga kini Rusia masih terlibat konflik dengan Ukraina. Setelah berlangsung selama enam bulan, belum ada tanda-tanda kedua negara tersebut akan duduk untuk merundingkan kesepakatan damai atau gencatan senjata. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA