Thursday, 18 Rajab 1444 / 09 February 2023

Di Bawah Kekuasaan Islam, Sisilia Italia Berada di Puncak Kejayaan Peradaban

Selasa 23 Aug 2022 13:23 WIB

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Nashih Nashrullah

Ilustrasi Sisilia Italia. Kekuatan Islam menaklukkan Sisilia dengan menapaki puncak peradaban

Foto:
Kekuatan Islam menaklukkan Sisilia dengan menapaki puncak peradaban

Pelabuhan-pelabuhan di kawasan pantainya tentu selalu ramai. Pulau terbesar seantero Laut Tengah ini memang sejak era pra-Islam menjadi salah satu bandar utama di Mediterania. 

Emirat Sisilia pun mengembangkan beragam industri, termasuk kertas serta kerajinan emas dan perak. Para raja Muslim menetapkan koin emas yang dinamakan ruba'ya sebagai mata uang. 

Dinamakan demikian karena nilainya setara seperempat dinar. Penggunaan ruba'ya diterima di kota-kota pelabuhan Mesir dan Syam. 

Walaupun lebih masyhur sebagai daerah perdagangan, Sisilia tetap menghasilkan sederet ahli ilmu. Sejumlah cendekiawan Muslim menjadikan pulau itu sebagai negerinya. 

Misalnya, Ismail bin Khalaf, seorang pakar ilmu qiraat yang menulis Kitab Alfi al-Qira'at; Yahya bin Umar, seorang ulama Maliki; serta Abu Bakar Muhammad at-Tamimi, pakar tasawuf yang pengikut tarekat Syekh Junaid al- Baghdadi. 

Beberapa manuskrip Arab terkesan melebih-lebihkan jumlah penduduk Emirat Sisilia. Namun, umumnya sejarawan modern memperkirakan, total populasi setempat di bawah pemerintahan Islam mencapai 250 ribu hingga 350 ribu jiwa. 

Baca juga: Dulu Pembenci Adzan dan Alquran, Mualaf Andreanes Kini Berbalik Jadi Pembela Keduanya

Mereka menunjukkan kemajemukan, dengan jumlah warga Nasrani dan Yahudi yang cukup signifikan. Semuanya hidup dengan aman di tengah mayoritas Muslim.

Walaupun pada masa kekuasaan Fathimiyah, umumnya umat Islam setempat adalah ahlussunnah yang berpaham fikih Maliki atau Hanafi. 

Di samping orang Arab, Yunani, dan penduduk asli, kelompok-kelompok etnis lainnya juga dapat dijumpai di Sisilia, semisal Berber, Yahudi, Jerman, Slavia, Persia, Turki, dan Nubia. 

 

Emirat ini menjadi zona peleburan (melting pot) budaya-budaya. Bahkan sesudah pulau tersebut lepas dari kuasa Muslimin sejak abad ke-12 M, budaya Islam tetap memengaruhi masyarakat lokal sebagai contoh, para wanita Nasrani di sana sering kali memakai hijab dan henna.     

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA