Wednesday, 2 Rabiul Awwal 1444 / 28 September 2022

Prawira Sampaikan Permintaan Maaf Atas Selebrasi Berlebihan Pelatih

Jumat 19 Aug 2022 14:34 WIB

Rep: Hartifiany Praisra/ Red: Gilang Akbar Prambadi

Pelatih Prawira, David Singleton.

Pelatih Prawira, David Singleton.

Foto: Dok. Prawira
Atas tindakan tersebut IBL memberikan sanksi denda 25 juta bagi Prawira.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Prawira Bandung menyampaikan permohonan maaf secara resmi atas selebrasi berlebihan dari pelatihnya, David Singleton. David melakukan selebrasi berlebihan di bench Dewa United saat Prawira dipastikan lolos ke semifinal IBL pada Selasa (16/8/2022) lalu. 

Atas tindakan tersebut IBL memberikan sanksi denda 25 juta bagi Prawira. Direktur Prawira, Teddy Tjahjono mengkonfirmasi soal sanksi tersebut. 

Baca Juga

"Kami telah menerima pemberitahuan terkait adanya hukuman denda/sanksi yang dijatuhkan oleh Indonesia Basketball League (IBL) kepada pelatih Prawira Bandung, David Singleton sebesar 25 juta rupiah akibat menjadi pemicu atas terjadinya kericuhan setelah pertandingan," kata Teddy dalam rilis yang diterima republika.co.id, Jumat (19/8/2022).

Prawira menang secara mengejutkan setelah tertinggal sejak laga dimulai. Di detik-detik terakhir pertandingan, Prawira pun menang dengan skor akhir 69-63. 

Kemenangan itu pun ternodai karena selebrasi yang berlebihan dari David berubah menjadi aksi saling dorong dari kedua tim dan lempar botol di bangku penonton. Teddy menyebut setelah insiden tersebut David telah menyampaikan permintaan maafnya pada Dewa United. 

"Permohonan maaf tersebut disampaikan secara langsung oleh David kepada manajemen tim, ofisial tim, pemain dan juga suporter Dewa United pada saat sesi konferensi pers," kata Teddy. 

Teddy mengungkapkan, David melakukan selebrasi itu secara spontan. Teddy menyebut tingginya tensi pertandingan membuat David emosional saat melakukan selebrasi. 

"Oleh karena itu cukup sulit untuk mengontrol tensi emosi seluruh pemain dan juga ofisial tim yang berada di lapangan pada saat pertandingan tersebut," kata Teddy. 

Teddy pun mengambil pelajaran atas insiden ini. Dia sadar bahwa pertandingan harus memiliki nilai sportivitas, saling menghargai dan menghormati tim lawan. 

"Agar dapat menjaga iklim pertandingan basket yang aman dan nyaman," kata Teddy. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA