Sunday, 29 Safar 1444 / 25 September 2022

Penulis Israel Luncurkan Kampanye Propaganda untuk Lawan Bella Hadid

Jumat 19 Aug 2022 09:21 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Friska Yolandha

Model AS Bella Hadid

Model AS Bella Hadid

Foto: EPA-EFE/CHRISTOPHE PETIT TESSON
Hadid dikenal sangat vokal dalam menyuarakan dukungan bagi Palestina.

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM -- Seorang penulis Israel meluncurkan kampanye propaganda untuk menghasut model keturunan Amerika-Palestina, Bella Hadid. Hadid dikenal sangat vokal dalam menyuarakan dukungan bagi Palestina, dan menggambarkan dirinya sebagai putri kebanggaan seorang ayah Palestina.

"Hadid menimbulkan kebencian dan anti-Semitisme terhadap Israel, tetapi pada saat yang sama dia menerima dukungan luas di antara orang-orang Palestina yang mendukung posisi anti-Israel," kata penulis di surat kabar Israel Hayom, Anibal Hayat, dilansir Middle East Monitor, Jumat (19/8/2022).

Baca Juga

Hayat menambahkan, pendukung gerakan Boikot, Divestasi dan Sanksi (BDS) melihat Hadid sebagai contoh unik untuk menyerang Israel, meskipun dia telah menghadapi serangan dari orang-orang pro-Israel di Barat.

"Hadid sering membual tentang ayahnya yang seorang Palestina, Muhammad, yang merupakan kritikus keras dan blak-blakan terhadap Israel," jelas Hayat dalam sebuah artikel yang diterjemahkan oleh Arab 21. 

Kendati demikian, Hayat mengatakan, model tersebut telah mendapatkan balasan untuk pandangan dan aktivitasnya yang menentang Israel, baik secara pribadi dan profesional. Menurut Hayat, banyak perusahaan telah berhenti bekerja sama dengan Hadid karena kritiknya terhadap negara pendudukan Israel.

Hadid sering mengatakan, dia tidak bertujuan untuk menyebarkan kebencian. Tetapi untuk mendukung saudara dan saudarinya di Palestina.

Supermodel ini memiliki 42 juta pengikut di Instagram, dan ratusan ribu pengikut di situs media sosial lainnya.  

Dalam beberapa unggahannya, Hadid bercerita bagaimana ayah dan keluarganya diusir dari rumah mereka di Palestina pada 1948. Mereka kemudian menjadi pengungsi di Suriah, Lebanon dan Tunisia, sebelum berakhir menetap di Amerika Serikat. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA