Friday, 4 Rabiul Awwal 1444 / 30 September 2022

Pakar Kesehatan Sebut Indonesia Hadapi Tujuh Tantangan Kesehatan Ini di Usia 77 Tahun

Kamis 18 Aug 2022 18:04 WIB

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Qommarria Rostanti

Tujun tantangan kesehatan Indonesia di usia ke-77 tahun. (ilustrasi).

Tujun tantangan kesehatan Indonesia di usia ke-77 tahun. (ilustrasi).

Foto: www.freepik.com
5.498 Puskesmas belum memiliki sembilan jenis tenaga kesehatan sesuai standar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI sekaligus Guru Besar FKUI, Prof Tjandra Yoga Aditama, mengatakan ada tujuh tantangan kesehatan bagi Indonesia di usia yang ke-77 tahun. Pertama, bagaimana terus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memberi prioritas penting bagi kesehatan.

Menurut dia, pandemi Covid-19 membuat masyarakat dan penentu kebijakan publik makin memberi prioritas pada kesehatan. "Kita semua harus menyadari, “health is not everything, but without health everything is nothing," kata Tjandra dalam keterangan, Kamis (18/8/2022).

Baca Juga

Kedua, bagaimana menjamin tersedianya pelayanan kesehatan primer, utamanya untuk menjaga yang sehat agar tetap sehat, paradigma sehat. Walaupun sudah sejak sebelum 1980, Indonesia sudah memiliki Puskesmas di semua kecamatan. "Tapi kini 5.498 dari 10.373 Puskesmas (53 persen) belum memiliki sembilan jenis tenaga kesehatan sesuai standar, dan 586 Puskesmas belum memiliki tenaga dokter," ujarnya.

Ketiga adalah peningkatan mutu pelayanan di rumah sakit, apalagi bila dihubungkan dengan pernyataan bahwa uang yang keluar untuk membiayai yang sakit dan ke luar negeri lebih dari Rp 110 triliun setiap tahunnya. Untuk itu, setidaknya ada tiga hal yang perlu dibenahi, pertama tentang aturan termasuk perpajakan alat kesehatan, kedua adalah sarana dan prasarana, serta ketiga tentang ketersediaan dan pemerataan tenaga kesehatan yang bermutu.

Tantangan keempat adalah penanggulangan pandemi Covid-19 dan juga bagaimana bersiap menghadapi kemungkinan masalah keamanan kesehatan di masa depan. Termasuk, kemungkinan wabah dan pandemi lagi.

Kelima, yaitu amat perlunya advokasi dan koordinasi karena masalah kesehatan tidak akan diselesaikan hanya oleh sektor kesehatan semata. Prof Tjandra mengatakan, salah satu contoh konkretnya adalah penerapan pendekatan “One Health” sebagai suatu pendekatan kolaboratif dalam pelayanan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan yang dilaksanakan secara terpadu lintas sektor dan tentu juga bersama masyarakat.

Keenam, perlu upaya ekstra keras untuk mencapai goal 3 SDG, yaitu mencapai Kehidupan Sehat dan Sejahtera di tahun 2030. Salah satu targetnya (3.3) adalah mengakhiri epidemi AIDS, tuberkulosis, malaria, dan penyakit tropis yang terabaikan, dan memerangi hepatitis, penyakit bersumber air, serta penyakit menular lainnya pada tahun 2030.

"Angka tuberkulosis kita masih tinggi, juga masih ratusan kabupaten yang belum bebas malaria dan lain-lain. Jelaslah perlu ada prioritas kegiatan dan sumber daya untuk pencapaian target SDG 2030 demi kesehatan dan kesejahteraan bangsa," kata Tjandra.

Ketujuh adalah bagaimana Indonesia berperan dalam kesehatan dunia. Pada 2022 ini sudah ada beberapa kegiatan kesehatan G20 dalam Presidensi Indonesia.

Sebelum ini, kata dia, juga sudah banyak peran Indonesia dalam forum diplomasi kesehatan dunia, baik dalam bentuk berbagai kebijakan global maupun juga dalam peran nyata sebagai jajaran WHO di berbagai tingkatan. Menurut Tjandra, sumbangsih Indonesia untuk kesehatan dunia perlu terus ditingkatkan, baik dengan mengacu pada pengalaman kita menangani masalah kesehatan yang beragam.

"Hasil penelitian anak negeri dan juga dengan kepakaran dan pengalaman panjang yang kita miliki," ujarnya.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA