Friday, 4 Rabiul Awwal 1444 / 30 September 2022

Wapres: Jangan Ada Konflik Akibat Beda Pilihan di Pemilu 2024

Kamis 18 Aug 2022 16:10 WIB

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Ilham Tirta

Wakil Presiden Republik Indonesia Maruf Amin.

Wakil Presiden Republik Indonesia Maruf Amin.

Foto: Republika/Thoudy Badai
Perbedaan pilihan diharapkan bisa disikapi secara dewasa oleh seluruh masyarakat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin berharap tidak ada konflik yang terjadi akibat perbedaan pilihan politik di pemilihan umum (Pemilu) 2024 mendatang. Ma'ruf berharap perbedaan pilihan ini bisa disikapi secara dewasa oleh seluruh masyarakat.

"Saya kira kita juga berharap mulai 2024 tidak ada lagi konflik karena ada perbedaan pilihan dan tidak menjadi sumber konflik," kata Ma'ruf saat diwawancarai wartawan di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Kamis (18/8/2022).

Baca Juga

Ma'ruf meyakini, masyarakat Indonesia sudah cerdas, dewasa serta paham mengenai pilihannya masing-masing. Karena itu, kondisi ini harus didukung dengan partai politik dan peserta pemilu untuk tidak mengkampanyekan unsur berbau suku, agama, ras, dan antaragolongan (SARA) yang kerap memicu konflik.

"Pimpinan-pimpinan partai tidak menggunakan apakah itu misalnya dalam arti identitas agama, kesukuan, juga kelompok yang eksklusif, saya kira kalau saya lihat dari berbagai kampanye yang sudah mulai dikembangkan, sebenarnya masyarakat sudah paham itu," katanya.

Ma'ruf tak memungkiri kecenderungan pilihan masyarakat berdasarkan unsur kesamaan identitas dengan calon yang akan dipilihnya. Hal itu tidak masalah selama menjadi isu pribadi orang tersebut.

"Tentu saja orang kalau memilih itu ada kecenderungan, memilihnya, tapi dalam mengampanyekan mungkin sebaiknya jangan sampai ada, dihindari. Tetapi ketika orang memilih mau tidak mau ada perasaan 'saya lebih dekat, lebih sama pandangannya, lebih suka karena dia lebih baik', itu tidak masalah," katanya.

Ma'ruf pun mencontohkan kedewasaan masyarakat saat ini dalam persoalan perbedaan waktu penentuan Hari Raya. Menurutnya, masyarakat saat ini sudah sangat toleran mengenai perbedaan penentuan hari raya masing-masing kelompok.

Karena itu, Ma'ruf berharap sikap toleransi ini juga ditularkan dalam pilihan politik di Pemilu 2024, mendatang. "Dulu itu (perbedaan hari raya) menjadi masalah bahkan di tingkat bawah itu bisa terjadi konflik beberapa tahun lalu, tetapi belakangan sudah tidak ada masalah, ya sudah, yang lebarannya hari ini ya hari ini, yang lebarannya besok, itu sudah tidak jadi masalah," katanya.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA