Friday, 15 Jumadil Awwal 1444 / 09 December 2022

Merdeka dari Kemiskinan

Selasa 16 Aug 2022 16:20 WIB

Red: Agung Sasongko

Agung Wicaksono, Direktur Utama Laz Nasional LMI

Agung Wicaksono, Direktur Utama Laz Nasional LMI

Foto: Dok Pribadi
Pengentasan kemiskinan, masih menjadi pekerjaan rumah serius bangsa Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Agung Wicaksono, Direktur Utama Laz Nasional LMI

“Di dalam Indonesia merdeka itulah kita memerdekakan rakyat kita dari kemiskinan, kebodohan, dan kesenjangan sosial!” Bung Karno.

Baca Juga

Orasi Bung Karno tersebut ia sampaikan saat berpidato di hadapan Anggota Badan Penyidik Persiapan Kemerdekaan Indonesia, 1 Juni 1945, atau 2 bulan menjelang kemerdekaan Indonesia. Orasi itu berhasil menyihir peserta sidang dan dikemudian hari lahirlah konsepsi falsafah dasar negara yakni pancasila, yang dalam salah satu butirnya tentang keadilan sosial bagi semuanya.

Bukan tanpa alasan Bung Karno menekankan kata agar rakyat terbebas dari kemiskinan, kebodohan, dan kesenjangan sosial, sebab, ia melihat rakyatnya menderita selama kuang lebih 350 tahun. Rakyatnya dijajah, dibodohi, dijadikan budak untuk kepentingan bangsa lain. Orasi Bung Karno itu menjadi semacam klimaks untuk kemerdekaan Indonesia pada bulan Agustus 1945.

Kata-kata yang diucapkan Bung Karno tersebut sudah menuju 77 tahun. Kata-kata tersebut, sebagaimana usia manusia, sudah menuju senja di usia tua. Sang perancang katanya pun sudah wafat pada 21 Juni 1970. Meskipun begitu, melihat Indonesia hari ini, nyatanya kata-kata tersebut masih relevan untuk memberi motivasi agar kemerdekaan yang selalu diperingati setiap tahun, ada perubahan menuju perbaikan kondisi bangsa.

Kemiskinan menjadi pangkal dari kebodohan dan adanya kesenjangan antar masyarakat satu dengan lainnya. Jika ada satu penduduk miskin, kemungkinan besar akan menambah satu penduduk yang bodoh, dan satu penduduk yang berbeda dari penduduk lainnya. Bagaimana jika ada dua, tiga, dan ribuan dari masyarakat Indonesia, tentu semakin besar peluang-peluang untuk ketidakbaikkan lainnya.

 

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA