Wednesday, 17 Rajab 1444 / 08 February 2023

Fatwa Mati Salman Rushdie dan 'Tumbal' Orang-Orang Terdekat

Selasa 16 Aug 2022 12:52 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Nashih Nashrullah

Salman Rushdie. Salman Rushdie menghina secara jelas Islam dan Rasulullah Muhammad SAW

Salman Rushdie. Salman Rushdie menghina secara jelas Islam dan Rasulullah Muhammad SAW

Foto: Evan Agostini/Invision/AP
Salman Rushdie menghina secara jelas Islam dan Rasulullah Muhammad SAW

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Serangan pisau pada Jumat (12/8/2022) terhadap Salman Rushdie terjadi lebih dari 33 tahun setelah fatwa terhadapnya dikeluarkan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ruhollah Khomeini, di mana dia menjatuhkan hukuman mati terhadap pria kelahiran India itu.

Pada 14 Februari 1989 Khomeini menyerukan agar dia dibunuh karena menulis “Ayat-Ayat Setan”, yang menurut ulama itu menghina Islam.

Baca Juga

Dalam sebuah fatwa, atau keputusan agama, Khomeini mendesak Muslim di dunia dengan cepat untuk mengeksekusi penulis dan penerbit buku tersebut sehingga tidak ada lagi yang berani menyinggung nilai-nilai suci Islam.

Khomeini, yang berusia 89 tahun dan hanya memiliki empat bulan untuk hidup pada saat itu, menambahkan bahwa siapa pun yang terbunuh saat mencoba melaksanakan hukuman mati harus dianggap sebagai jihad yang akan masuk surga.

Hadiah 2,8 juta dolar AS diberikan jika berhasil membunuh penulis tersebut. Segera setelah fatwa muncul, pemerintah Inggris segera memberikan perlindungan polisi kepada Rushdie, seorang ateis yang lahir di India.

Selama hampir 13 tahun dia berpindah-pindah di antara rumah persembunyian dengan nama samaran Joseph Anton, berpindah hingga 56 kali dalam enam bulan pertama. 

Kesendiriannya diperburuk oleh perpisahan dengan istrinya, novelis Amerika Marianne Wiggins, yang kepadanya "The Satanic Verses" didedikasikan.

Baca juga: Seberapa Parahkah Salman Rushdie Hina Islam dan Rasulullah SAW dalam Ayat-Ayat Setan?

Viking Penguin menerbitkan “The Satanic Verses” pada September 1988 untuk pujian kritis. Buku ini berlatar belakang di London dari Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher dan Makkah kuno, situs paling suci dalam Islam.

Ini berpusat pada petualangan dua aktor India, Gibreel dan Saladin, yang pesawatnya dibajak meledak di Selat Inggris. Mereka muncul kembali di pantai Inggris dan berbaur dengan imigran di London, cerita terungkap dalam urutan surealis yang mencerminkan gaya realisme magis Rushdie.

Buku itu dianggap menghujat dan asusila oleh banyak Muslim termasuk referensi atas ayat-ayat yang diduga oleh beberapa sarjana telah menjadi versi awal Alquran dan kemudian dihapus. 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA