Friday, 4 Rabiul Awwal 1444 / 30 September 2022

FAO dan IRRI Akui Ketahanan Pangan Indonesia Tangguh Saat Dunia Krisis

Senin 15 Aug 2022 00:43 WIB

Red: Friska Yolandha

Petani memanen padi di lahan persawahan, Kebumen, Jawa Tengah, Senin (25/7/2022). Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) dan Institut Penelitian Padi Internasional (International Rice Research Institute/IRRI) mengakui sistem ketahanan pangan di Indonesia yang tangguh di tengah krisis pangan dan ketegangan geopolitik.

Petani memanen padi di lahan persawahan, Kebumen, Jawa Tengah, Senin (25/7/2022). Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) dan Institut Penelitian Padi Internasional (International Rice Research Institute/IRRI) mengakui sistem ketahanan pangan di Indonesia yang tangguh di tengah krisis pangan dan ketegangan geopolitik.

Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Indonesia berhasil mendongkrak tingkat produktivitas padi dan capai swasembada.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) dan Institut Penelitian Padi Internasional (International Rice Research Institute/IRRI) mengakui sistem ketahanan pangan di Indonesia yang tangguh di tengah krisis pangan dan ketegangan geopolitik. Tingginya ketahanan pangan Indonesia diwujudkan dalam bentuk penyerahan penghargaan bagi pemerintah Indonesia yang diberikan oleh Direktur Jenderal IRRI Jean Balie kepada Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Ahad (14/8/2022).

"Ini adalah pencapaian yang sangat besar, dibuktikan dengan sistem pertanian-pangan tingkat tinggi, ketahanan pangan, tidak hanya beras tetapi juga pada komoditas lain, terutama di tengah kondisi ketegangan geopolitik," kata Jean Balie di Istana Merdeka Jakarta.

Baca Juga

Menurut Jean Balie, selama pandemi yang sangat mempengaruhi berbagai negara, Indonesia berhasil mendongkrak tingkat produktivitas padi dan mencapai tingkat swasembada yang tinggi. IRRI menilai Indonesia mencapai swasembada karena mampu memenuhi kebutuhan masyarakat lebih dari 20 persen.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, produksi beras nasional dari tahun 2019 konsisten berada pada level 31,3 juta ton, memenuhi kebutuhan beras Nasional sebesar 30 juta ton per tahun. Berdasarkan hitungan BPS, jumlah stok akhir beras di bulan April 2022 tertinggi di angka 10,2 juta ton.

"Ini merupakan hasil dari adopsi teknologi yang tinggi, pelatihan petani yang baik, juga kinerja penyuluhan yang sangat baik dan kerja sama yang sangat baik antar instansi dan khususnya antara IRRI dan pemerintah Indonesia," kata Jean.

Senada dengan itu, Representasi FAO untuk Indonesia dan Timor Leste, Rajendra Aryal, menilai bahwa penghargaan yang diberikan IRRI kepada pemerintah Indonesia merupakan sebuah pencapaian besar, terutama terkait swasembada beras di tengah pandemi COVID-19 dan situasi geopolitik.

"Saya katakan bahwa ini adalah pencapaian besar yang telah dicapai Indonesia karena kita telah melihat hampir tidak ada impor beras kecuali untuk varietas premium. Impor jagung juga telah stabil, jadi saya akan mengatakan bahwa ini adalah pencapaian besar dan ini merupakan tonggak utama menuju sistem pangan pertanian yang tangguh di negara ini," kata Rajendra Aryal.

Lebih lanjut, FAO berkomitmen untuk terus membantu Indonesia dalam menyediakan dukungan keahlian teknis yang dibutuhkan untuk meningkatkan produksi pangan. Rajendra melanjutkan bahwa pihaknya juga siap untuk bekerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk bisa mempertahankan pencapaian swasembada ini menuju ketahanan sektor pertanian yang lebih baik ke depannya.

"FAO bersedia berkomitmen untuk menyediakan keahlian teknis yang dibutuhkan untuk produksi yang lebih baik, kesehatan yang lebih baik, lingkungan yang lebih baik, dan kehidupan yang lebih baik," kata dia.

sumber : Antara
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA