Tuesday, 8 Rabiul Awwal 1444 / 04 October 2022

Perayaan 120 Tahun Bung Hatta Angkat Sumbangsih Pemikiran dan Perjuangannya bagi Indonesia

Ahad 14 Aug 2022 17:14 WIB

Red: Irwan Kelana

Hadi Nur Ramadhan (founder Rumah Sejarah Indonesia) sedang menyampaikan perjuangan Bung Hatta di Rumah Kelahiran Bung Hatta di Bukittinggi, Sumatera Barat, beberapa waktu lalu.

Hadi Nur Ramadhan (founder Rumah Sejarah Indonesia) sedang menyampaikan perjuangan Bung Hatta di Rumah Kelahiran Bung Hatta di Bukittinggi, Sumatera Barat, beberapa waktu lalu.

Foto: Dok Pusdok Tamaddun
Bung Hatta adalah tokoh yang serba lengkap dalam sejarah Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pusat Dokumentasi Islam Indonesia (Pusdok) Tamaddun pada Jumat (12/8/2022) malam menggelar webinar  Peringatan 120 Tahun Proklamator Republik Indonesia sekaligus Wakil Presiden Pertama Mohammad Hatta yang lahir pada 12 Agustus 1902.

Acara ini digelar untuk merawat ingatan bangsa atas jasa dan perjuangan Mohammad Hatta terhadap kemerdekaan Indoensia dan kemajuan bangsa. “Selain itu, kegiatan ini juga turut memarekan karya-karya lawas Bung Hatta kepada publik Indonesia, khususnya generasi muda,” kata pendiri Pusdok Tamaddun Hadi Nur Ramadhan dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Sabtu (13/8/2022).

Dalam kesempatan itu, Halida Hatta mengenang ayahnya sebagai sosok yang sangat mencintai Indonesia. Bung Hatta juga sosok yang gigih, sederhana, dan berintegritas.

"Integritas Bung Hatta adalah sesuatu yang tidak usah diragukan lagi. Bung Hatta tidak usah banyak berkhotbah tentang kesederhanaan, integritas, dan kerja keras sebab beliau sudah mencontohkan itu," ujar Halidah.

Halidah mengaku sangat bangga jasa, perjuangan, dan pemikiran Bung Hatta masih terus dikenang oleh generasi muda Indonesia.

Hadi Nur Ramadhan mengemukakan, peran Bung Hatta yang sangat besar adalah  membentuk jati diri bangsa Indonesia.  Sejak di Belanda, ucap Hadi, Bung Hatta dan kawan-kawannya di Belanda membentuk Perhimpunan Indonesia (PI) untuk mempercepat kemerdekaan Bangsa Indonesia.

"Tapi sayang di usia Republik Indonesia yang ke-77 tahun, nama dan jejak Bung Hatta semakin hilang dalam memori banga Indonesia," ujar Hadi.  “Maka dengan itu  Pusat Dokumentasi Islam Indonesia Tamaddun mengadakan Diskusi 120 Tahun Bung Hatta dan Pameran karya lawas Bung Hatta,” tambahnya.

Hadir dalam kegiatan ini, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah yang ikut membuka acara ini. Gubernur yang akrab disapa Buya Mahyeldi ini mengatakan,  generasi muda saat ini memiliki peran penting untuk terus mengkaji pemikiran Bung Hatta dan meneruskan segala kerja kerasnya membangun Indonesia.

“Andaikata Bung Hatta masih hidup maka kini ia telah berusia 120 tahun, tentu tugas generasi bangsa Indonesia adalah melanjutkan ruh,  cita-cita  dan idealisme perjuangan  Bung Hatta dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia," ungkapnya.

Mahyeldi pun mengapresiasi acara yang digagas oleh Pusdok Tamaddun ini dan berjanji akan bekerja sama dalam menyampaikan ide-ide besar Bung Hatta ke berbagai wilayah  Indonesia. “Spirit Bung Hatta tidak boleh padam dalam sanubari generasi muda Indonesia Indonesia,” ujar Mahyeldi kepada peserta.

photo
Dosen Hubungan Internasional (HI) di Universitas Al-Azhar Indonesia, Pizaro Gozali Idrus Pizaro sedang menyampaikan peran Bung Hatta dalam politik internasional bebas aktif ke peserta webinar. (Foto: Dok Pusdok Tamaddun)
Sementara itu, pengamat internasional yang juga Dosen HI di Universitas Al Azhar Pizaro Gozali Idrus  mengatakan Bung Hatta adalah tokoh yang serba lengkap dalam sejarah Indonesia. Hatta, terang Pizaro, berbicara soal Islam, keilmuan, ekonomi, ketahanan nasional, hingga politik luar negeri.

“Politik Bebas Aktif yang ditelurkan oleh Bung Hatta menjadi dasar kebijakan luar negeri Indonesia. Hatta tidak mau Indonesia diseret dalam kepentingan Amerika dan Uni Soviet. Bebas aktif bukan berarti netral, tapi independen  dan secara aktif mewujudkan perdamaian dunia,” ungkap Pizaro. 

Hatta, lanjut Pizaro, juga tegas menyampaikan bahwa ideologi komunisme bertentangan dengan Pancasila. Karena,  komunisme mengajarkan untuk menolak agama, sedangkan Pancasila bersandarkan kepada Ketuhanan Yang Mahaesa.

“Bagi Hatta, Pancasila tidak hanya bisa diucapkan di bibir saja, tapi juga harus diwujudkan dalam kenyataan,” ujar  Pizaro.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA