Thursday, 3 Rabiul Awwal 1444 / 29 September 2022

Indonesia Raih Penghargaan IRRI, Rektor IPB University Pidato di Istana Negara

Ahad 14 Aug 2022 16:45 WIB

Red: Irwan Kelana

Rektor IPB University, Prof Arif Satria berpidato pada acara penyerahan Penghargaan IRRI kepada Pemerintah RI atas pencapaian Rice Self Sufficiency dan Resiliensi, di Istana Negara Jakarta, Ahad (14/8/2022).

Rektor IPB University, Prof Arif Satria berpidato pada acara penyerahan Penghargaan IRRI kepada Pemerintah RI atas pencapaian Rice Self Sufficiency dan Resiliensi, di Istana Negara Jakarta, Ahad (14/8/2022).

Foto: Dok IPB University
Indonesia  mampu berswasembada pangan di tengah krisis Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rektor IPB University, Prof Arif Satria menyampaikan pidato selamat atas penghargaan yang diraih Pemerintah Indonesia dari International Rice Research Institute (IRRI) sebagai lembaga penelitian beras ternama di dunia atas pencapaian Indonesia yang mampu memenuhi kebutuhan beras di masa pandemi Covid-19 tanpa impor. Pidato itu disampaikan dalam acara penyerahan penghargaan dari IRRI yangdilakukan di Istana Negara, Jakarta, Ahad  (14/8).

Capaian ini, kata Prof Arif Satria, membuat Indonesia dipandang sebagai negara yang mampu berswasembada pangan di tengah krisis Covid-19. “Di samping itu menunjukkan resiliensi Indonesia atas bencana yang dihadapi dunia  sekaligus menjadi hadiah  hari peringatan kemerdekaan RI yang ke-77,” ujarnya dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Ahad (14/8/2022). 

Ia melanjutkan, keberhasilan ini merupakan hasil komitmen Pemerintah Indonesia untuk mewujudkan kedaulatan pangan. "Program peningkatan produktivitas padi yang dicanangkan oleh pemerintah dapat memposisikan  Indonesia  di nomor 2  tertinggi di Asia Tenggara sebagai negara dengan produktivitas padi tertinggi (FAO 2020). Program ini telah menyebabkan ketersediaan beras Indonesia relatif aman. Keberhasilan ini juga turut didorong oleh para petani  yang telah bekerja keras untuk mewujudkan ketangguhan pangan Indonesia, " ungkapnya.

Keberhasilan program ini, lanjutnya, juga ditopang oleh meningkatnya diversifikasi pangan yang telah menurunkan konsumsi beras. Ia menyebut, berdasarkan data Susenas, selama lima tahun terakhir konsumsi beras telah menurun dari 99 kilogram/kapita/tahun di tahun 2016 menjadi 94,4 kilogran/kapita/tahun pada tahun 2021. Ke depan angka konsumsi per kapita ini masih dapat diturunkan hingga 85 kilogram/kapita/tahun sesuai rekomendasi Pola Pangan Harapan.

"Syaratnya  harus diimbangi dengan peningkatan diversifikasi konsumsi pangan karbohidrat lokal, dan peningkatan konsumsi sayuran, buah, kacang-kacangan serta pangan hewani untuk menjaga mutu gizi konsumsi pangan masyarakat Indonesia, " jelasnya.

Lebih  lanjut dikatakannya, “Bila penurunan konsumsi beras per kapita sesuai Pola Pangan Harapan ini dapat direalisasiakan, maka Indonesia semakin mandiri pangan.  Bahkan sangat dimungkinkan dalam jangka panjang Indonesia mampu menjadi eksportir beras yang memberi makan dunia. Syaratnya, intensifikasi, ekstensifikasi, dan diversifikasi pangan berbasis pangan lokal harus berhasil, dan petani harus sejahtera.”

Menurutnya, intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian lahan marjinal seperti lahan rawa, lahan eks tambang, lahan pasang surut, dan lahan dengan salinitas tinggi, perlu dicarikan terobosan teknologi. "Pada saat yang sama juga penting untuk menekan laju konversi lahan sawah produktif, " imbuhnya.

Upaya peningkatan ketersediaan pangan tersebut, sebutnya, juga dapat dimaksimalkan  melalui penurunan food loss and waste pada level on-farm, off-farm, hingga konsumen.  "Di sinilah pertanian presisi diperlukan untuk menekan food loss, dan perubahan perilaku konsumen untuk menekan food waste, " ungkapnya.

Dikatakannya, ke depan, untuk membangun sistem pangan yang resilien atau tangguh diperlukan pendekatan 4 betters (FAO),  yaitu better production, better nutrition, better environment dan better life.  "Sistem pangan yang tangguh tidak mudah terguncang oleh dinamika geopolitik, perubahan iklim maupun oleh ancaman bencana alam/non alam serta bencana buatan manusia.  Untuk itu kita harus memiliki, pertama, perencanaan pangan yang baik di tingkat nasional maupun daerah. Kedua,  sistem cadangan pangan dan logistik yang tangguh. Ketiga, kemampuan recovery (pemulihan) cepat pasca terjadinya aneka guncangan, " jelasnya.

Ia menuturkan, IPB University bersama perguruan tinggi di Indonesia selama ini telah bahu-membahu dengan Kementerian Pertanian dan berbagai lembaga penelitian terkait termasuk IRRI dalam peningkatan produktivitas padi. Yakni melalui penciptaan varietas padi unggul seperti IPB 3S, IPB 4S, IPB 9G dan melakukan kegiatan pendampingan di masyarakat untuk swasembada beras. 

“Pendampingan sangat diperlukan untuk menebar inspirasi dan optimisme untuk para petani agar terus bersemangat menerapkan prinsip-prinsip pertanian modern berkelanjutan untuk ketangguhan pangan kita,” tambahnya.

Ia juga menekankan perlunya riset kolaboratif pangan untuk terus diperkuat sehingga menghasilkan terobosan besar dalam inovasi pangan.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA