Thursday, 7 Jumadil Awwal 1444 / 01 December 2022

Survei Serologi Terbaru: Kadar Antibodi Covid Penduduk Indonesia Naik Empat Kali Lipat

Kamis 11 Aug 2022 19:15 WIB

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Andri Saubani

Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin booster kedua kepada nakes di RSUI, Depok, Jawa Barat, Kamis (11/8/2022). Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Depok, pelaksanaan vaksinasi booster kedua untuk tenaga kesehatan sudah mencapai 492 orang dari sasaran 11.127 orang nakes.

Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin booster kedua kepada nakes di RSUI, Depok, Jawa Barat, Kamis (11/8/2022). Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Depok, pelaksanaan vaksinasi booster kedua untuk tenaga kesehatan sudah mencapai 492 orang dari sasaran 11.127 orang nakes.

Foto: ANTARA/Asprilla Dwi Adha
Median kadar antibodi covid meningkat dari 444 unit per mm menjadi 2.097 unit per mm.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Persentase penduduk Indonesia yang memiliki antibodi Covid-19 meningkat menjadi 98,5 persen. Hal tersebut diketahui dari survei serologi pada Juli 2022 yang diumumkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Tim Pandemi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI), Kamis (11/8/2022).

Hasil ini meningkat dibandingkan survei serologi pada Desember 2021 yang mendapatkan tingkat antibodi penduduk Indonesia sebesar 87,8 persen. Epidemiolog dari Universitas Indonesia Iwan Ariawan mengatakan, kadar antibodi yang dimiliki 98,5 persen penduduk Indonesia meningkat lebih dari empat kali lipat dibanding Desember 2021 dan Juli 2022.

Baca Juga

"Median kadar antibodi meningkat dari 444 unit per mm, jadi 2.097 unit per mm," katanya dalam Keterangan Pers \"Serologi Survei Nasional Ketiga" secara daring, Kamis.

Hadir dalam kesempatan yang sama, ahli Epidemiologi FKM UI, Pandu Riono mengatakan pemberian vaksinasi Covid-19 dosis ketiga menjadi penyebab meningkatnya antibodi terhadap Covid-19. "Hasil survei itu mengindikasikan atau mendukung bahwa booster itu sangat penting," kata Pandu.

Namun, lanjut Pandu, hingga kini cakupan booster pertama atau vaksinasi dosis ketiga baru mencapai 28 persen. Angka tersebut masih jauh dari target yang diinginkan yakni sebesar 50 persen. Oleh karenanya, Pandu meminta agar cakupan vaksinasi dosis ketiga dituntaskan terlebih dahulu baru melanjutkan vaksinasi booster kedua untuk masyarakat umum.

"Jangan kita pikirkan dulu booster yang kedua, kita tuntaskan dulu booster pertama," tutur Pandu.

Lebih lanjut Pandu menjelaskan, bila antibodi penduduk Indonesia terbukti sudah mencukupi dengan cakupan vaksinasi booster pertama yang lebih besar, bukan tidak mungkin vaksinasi booster kedua tidak lagi diperlukan.

"Kalau kita sudah bisa menuntaskan (booster pertama) barangkali kita tidak butuh booster kedua. Kita belum tahu, tapi yang sudah jelas bahwa booster pertama itu adalah suatu keharusan kita lakukan. Kita tuntaskan, dalam arti karena dari data mengindikasikan kita berhasil mencapai level kadar antibodi yang cukup tinggi," tutur Pandu.

 

photo
Ketentuan vaksinasi booster yang terbaru - (Republika)
 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA