Tuesday, 8 Rabiul Awwal 1444 / 04 October 2022

Harus Diakui MU Memang Terus Alami Kemunduran, Siapa Siap Dikambinghitamkan?

Kamis 11 Aug 2022 14:29 WIB

Rep: Eko Supriyadi/ Red: Gilang Akbar Prambadi

Pelatih kepala Manchester United Erik ten Hag berdiri selama pertandingan sepak bola Liga Premier Inggris antara Manchester United dan Brighton di stadion Old Trafford di Manchester, Inggris, Ahad, 7 Agustus 2022.

Pelatih kepala Manchester United Erik ten Hag berdiri selama pertandingan sepak bola Liga Premier Inggris antara Manchester United dan Brighton di stadion Old Trafford di Manchester, Inggris, Ahad, 7 Agustus 2022.

Foto: AP/Dave Thompson
Pesona MU bahkan terus menukik, buktinya banyak pemain incaran yang ogah bergabung.

REPUBLIKA.CO.ID, MANCHESTER -- Kalah di laga pembuka musim baru, protes massal, dan aktivitas transfer yang memalukan, menjadi sorotan yang menghujam Manchester United saat ini. Setelah melepas sejumlah pemain yang dianggap tidak produktif lagi, MU berada dalam posisi yang lebih buruk dibandingkan 12 bulan lalu, ketika mendatangkan Raphael Varane dan Cristiano Ronaldo.

Penunjukan Erik ten Hag pada April lalu dimaksudkan memberi United peluang terbaik untuk bersaing, baik di lapangan maupun di bursa transfer musim panas. Meski kekalahan 1-2 dari Brighton di pekan pembuka Liga Inggris, kegagalan klub di bursa transfer bakal menghasilkan luka yang lebih besar dibandingkan dengan tumbang di tangan skuad asuhan Graham Potter tersebut.

Baca Juga

Dengan bursa transfer yang tinggal kurang dari sebulan lagi, MU masih harus mendatangkan beberapa pemain untuk bisa bersaing di papan atas. Pengejaran klub terhadap Frenkie de Jong telah mendominasi musim panas ini, hingga langkah mengejutkan MU mengincar Marko Arnautovic, menemui kegagalan. 

Saat ini, MU baru menyelesaikan tiga rekrutmen, yaitu Lisandro Martinez, Tyrell Malacia, dan Christian Eriksen. Mereka semua telah meningkatkan posisi masing-masing, tapi belum cukup untuk membuat Iblis Merah bersaing di posisi empat besar. Martinez dan Malacia sama sekali tidak dikenal di Liga Primer Inggris, sementara Eriksen belum pernah memenangkan trofi di sepak bola Inggris. 

Hal itu berbeda dengan Arsenal, Chelsea, dan Tottenham Hotspur, yang merekrut pemain-pemain elite maupun yang sedang naik daun. Arsenal sukses mendatangkan Oleksandr Zinchenko dan Gabriel Jesus dari Manchester City. Chelsea merekrut Kalidou Koulibaly, Raheem Sterling, dan Marc Cucurella. Sementara Tottenham paling aktif di bursa transfer. 

Dikutip dari Manchester Evening News, Kamis (11/8/2022), MU hanya mencari pemain-pemain yang memang ingin 'dibuang' oleh klub mereka masing-masing. Contohnya adalah Adrien Rabiot dan Sergej Milinkovic-Savic, terlepas dari kualitasnya, tapi tidak pernah menarik minat serius dari klub-klub top Eropa. Jika kondisi ini tidak berubah dan MU bertahan dengan pemain yang sudah ada sekarang, itu melukiskan gambaran buruk tentang ambisi klub dan Glazer. 

Saingan mereka mengambil pemain yang menarik dan berpikiran maju. Sedangkan United beralih ke pemain yang telah kehilangan performa terbaik mereka, kecuali De Jong. Sekali lagi, keluarga Glazer menahan MU, sementara rival mereka telah mengambil langkah berani untuk menjembatani jarak dengan Liverpool dan Manchester City. Mereka memiliki waktu tiga pekan untuk membuktikan keseriusan bisa bersaing di papan atas.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA