Thursday, 10 Rabiul Awwal 1444 / 06 October 2022

BMKG: Wilayah Jawa Tengah Selatan Berpotensi Hujan Beberapa Hari ke Depan

Rabu 10 Aug 2022 15:56 WIB

Red: Nora Azizah

Wilayah Jawa Tengah Selatan masih berpotensi hujan meski sudah masuk kemarau.

Wilayah Jawa Tengah Selatan masih berpotensi hujan meski sudah masuk kemarau.

Foto: ANTARA/Yulius Satria Wijaya
Wilayah Jawa Tengah Selatan masih berpotensi hujan meski sudah masuk kemarau.

REPUBLIKA.CO.ID, PURWOKERTO -- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memrakirakan wilayah Jawa Tengah bagian selatan khususnya Kabupaten Cilacap dan Banyumas masih berpotensi terjadi hujan hingga tanggal 13 Agustus 2022. Saat dihubungi dari Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Rabu (10/8/2022), Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stasiun Meteorologi (StaMet) Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo mengakui jika sebenarnya saat sekarang telah memasuki musim kemarau. Bahkan, kata dia, di wilayah Cilacap dan Banyumas sempat tidak ada hujan selama beberapa hari.

"Akan tetapi dalam beberapa hari terakhir kembali terjadi hujan di wilayah Cilacap dan Banyumas," katanya.

Baca Juga

Menurut dia, hujan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir disebabkan indeks Enso bernilai negatif 0,57, sehingga ada pengaruh signifikan terhadap peningkatan curah hujan di Indonesia. Dalam kondisi normal, indeks Enso bernilai lebih kurang 0,5.

Selain itu, Dipole Mode Index (DMI) bernilai negatif 0,81, sehingga aktivitas pembentukan awan di wilayah Indonesia bagian barat menjadi signifikan. Dalam hal ini, Dipole Mode merupakan fenomena interaksi laut dengan atmosfer di Samudra Hindia yang dihitung berdasarkan perbedaan nilai atau selisih suhu permukaan laut antara pantai timur Afrika dan pantai barat Sumatra.

"Perbedaan nilai anomali suhu permukaan laut itu disebut sebagai Dipole Mode Index (DMI). DMI dianggap normal ketika nilainya kurang lebih 0,4," kata Teguh.

Ia mengatakan, jika DMI positif umumnya berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia bagian barat, sedangkan DMI negatif berdampak pada meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat. Menurut dia, terjadinya hujan dalam beberapa hari terakhir juga disebabkan oleh anomali suhu permukaan laut lebih panas 1-3 derajat Celcius, sehingga ada potensi penambahan penguapan.

Lebih lanjut, Teguh mengatakan, berdasarkan catatan hujan di BMKG Stamet Tunggul Wulung pada hari Rabu (10/8), konsentrasi hujan selama 24 jam terakhir khususnya di wilayah Kabupaten Cilacap tercatat lebat hingga sangat lebat.

"Hujan lebat terjadi di Adipala dengan curah 54 milimeter, Stamet Cilacap 65 mm, Maos 80 mm, dan Binangun 52 mm, sedangkan hujan sangat lebat terjadi di Kesugihan 108 mm. Sementara wilayah lain di Cilacap terjadi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang," katanya.

Ia memrakirakan hujan masih berpotensi terjadi hingga tiga hari ke depan, sehingga masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor. Terkait dengan prakiraan tinggi gelombang laut, dia mengatakan BMKG Stamet Tunggul Wulung Cilacap pada hari Rabu (10/8) mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi di perairan selatan Jawa Barat hingga Daerah Istimewa Yogyakarta maupun Samudra Hindia selatan Jabar hingga DIY.

Menurut dia, tinggi gelombang di wilayah tersebut berpotensi mencapai 4-6 meter atau masuk kategori sangat tinggi. "Peringatan dini gelombang tinggi ini berlaku hingga Kamis (11/8) dan akan kami perbarui jika ada perkembangan lebih lanjut," kata Teguh.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas Budi Nugroho mengatakan, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang terjadi pada Selasa (9/8/2022) sore hingga malam telah mengakibatkan tanah longsor di sejumlah desa.

"Kami masih melakukan asesmen. Namun kejadian tersebut tidak sampai menimbulkan korban jiwa," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA