Tuesday, 12 Jumadil Awwal 1444 / 06 December 2022

Covid-19 Belum Usai, China Deteksi Virus Baru Langya, 35 Orang Terinfeksi

Rabu 10 Aug 2022 13:45 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Reiny Dwinanda

Petugas keamanan yang mengenakan pelindung wajah dan masker berjaga-jaga saat warga melakukan tes virus corona di lokasi pengujian di luar Drum Tower, Rabu, 23 Maret 2022, di Beijing, China. Di tengah pandemi Covid-19, China temukan infeksi Langya Henipavirus, virus yang sebelumnya tidak pernah menjangkiti manusia.

Petugas keamanan yang mengenakan pelindung wajah dan masker berjaga-jaga saat warga melakukan tes virus corona di lokasi pengujian di luar Drum Tower, Rabu, 23 Maret 2022, di Beijing, China. Di tengah pandemi Covid-19, China temukan infeksi Langya Henipavirus, virus yang sebelumnya tidak pernah menjangkiti manusia.

Foto: AP/Andy Wong
Langya henipavirus (LayV) tadinya tidak pernah menginfeksi manusia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah pandemi Covid-19, Centers for Disease Control (CDC) di China mengumumkan adanya temuan virus baru bernama Langya henipavirus (LayV) di dua provinsi. Sejauh ini, virus Langya telah menginfeksi 35 orang.

Virus Langya disebut sebagai virus baru karena sebelumnya tak pernah menginfeksi manusia. Seperti namanya, virus Langya berasal dari genus yang sama seperti virus Hendra dan virus Nipah, yaitu Henipavirus.

Baca Juga

Genus ini bisa menyebabkan penyakit yang fatal dan berat pada manusia. Selain itu, belum ada vaksin atau obat untuk mengatasi virus-virus dari genus Henipavirus.

Virus Nipah, misalnya, pertama kali ditemukan pada 1999 di Malaysia dan Singapura. Infeksi virus Nipah menyebabkan 100 kasus kematian dari 300 kasus.

Mengacu pada data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Henipavirus diklasifikasikan sebagai biosafety level 4 dengan tingkat kematian antara 40-75 persen. Terkait kasus infeksi virus Langya, belum ada kasus kematian yang ditemukan di antara 35 pasien. Seperti diungkapkan Global Times, kasus berat juga tak ditemukan di antara pasien-pasien tersebut.

Melalui artikel dalam New England Journal of Medicine (NEJM), tim peneliti di China mengungkapkan bahwa ke-35 pasien mulanya diperiksa karena mengalami demam. Selain demam, tim peneliti juga banyak menemukan keluhan berupa kelelahan, batuk, hilang nafsu makan, nyeri otot, mual, sakit kepala, dan muntah pada para pasien.

Tim peneliti juga mendapati bahwa para pasien yang terinfeksi virus Langya memiliki riwayat kontak dengan hewan. Namun, melihat adanya beberapa klaster yang terbentuk, tim peneliti menilai virus Langya sudah menyebar di antara manusia sebelumnya.

"Tidak ada riwayat kontak erat atau paparan yang umum di antara para pasien, yang mengindikasikan bahwa ibfeksu pada populasin manusia mungkin sporadis," jelas tim peneliti dalam artikel, seperti dilansir The Sun, Rabu (10/8/2022).

Tim peneliti juga melakukan penelusuran pada sembilan pasien yang memiliki 15 anggota keluarga yang melakukan kontak erat dengan mereka. Hasil penelusuran ini menunjukkan bahwa tak ada transmisi virus Langya akibat kontak erat.

"Tapi sampel kami terlalu kecil untuk menentukan status transmisi antarmanusia untuk LayV (virus Langya)," ungkap tim peneliti.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA