Wednesday, 2 Rabiul Awwal 1444 / 28 September 2022

Pertamina Terapkan Digitalisasi di Blok Rokan

Senin 08 Aug 2022 17:20 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Fuji Pratiwi

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati (tengah) bersama Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto (kanan) dan Direktur Utama Pertamina Hulu Rokan (PHR) Jaffee A Suardin (kiri) mengamati informasi pada layar digital usai meresmikan Pusat Digitalisasi dan Inovasi (DICE) di Rumbai Country Club PT PHR, Pekanbaru, Riau, Senin (8/8/2022). PHR menjadikan DICE sebagai fasilitas pusat kendali operasional dan

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati (tengah) bersama Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto (kanan) dan Direktur Utama Pertamina Hulu Rokan (PHR) Jaffee A Suardin (kiri) mengamati informasi pada layar digital usai meresmikan Pusat Digitalisasi dan Inovasi (DICE) di Rumbai Country Club PT PHR, Pekanbaru, Riau, Senin (8/8/2022). PHR menjadikan DICE sebagai fasilitas pusat kendali operasional dan

Foto: ANTARA/Aditya Pradana Putra
Digitalisasi berdampak pada kenaikan produksi Blok Rokan pada tahun ini.

REPUBLIKA.CO.ID, PEKANBARU -- PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) menerapkan digitalisasi sistem pemantauan dan pengoperasian pengeboran. Hal ini berdampak pada kenaikkan produksi Wilayah Kerja (WK) Rokan pada tahun ini.

PHR memiliki sebuah fasilitas pusat kendali operasional dan big data yang dapat memantau kegiatan di lapangan secara langsung. Kehadiran fasilitas bernama Digital & Innovation Center (DICE) itu berperan penting dalam mendukung pengambilan keputusan yang cepat dan tepat. Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto dan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati meresmikan DICE ini.

Baca Juga

"Langkah strategis ini merupakan bagian upaya Pertamina dalam mewujudkan operasi yang andal melalui inisiatif Go Digital. Fasilitas ini sangat penting dalam mendukung pengambilan keputusan secara cepat dan tepat, sehingga mendukung pencapaian target produksi," tutur Nicke Kompleks PHR Rumbai, Pekanbaru, Riau, Senin (8/8/2022).

DICE merupakan hasil pengintegrasian dua fasilitas digital PHR, yakni War Room dan Integrated Optimization Decision Support Center (IODSC). Fasilitas tersebut dilengkapi 66 layar yang menampilkan data dan informasi dalam bentuk digital dashboard, di antaranya terkait pemantauan aktivitas pengeboran; jadwal pengeboran yang terintegrasi (Integrated Drilling Schedule); penyiapan lokasi pengeboran dan pembangunan fasilitas sumur minyak; dan pengelolaan kegiatan produksi dan perawatan peralatan.

"Di era industri 4.0, industri migas juga harus terus berinovasi melalui penerapan teknologi digital. Efisiensi dan produktivitas kegiatan operasi dapat dicapai dengan pemanfaatan dan pengolahan big data," tutur Dirut Pertamina Hulu Energi (PHE) Budiman Parhusip.

 

Sementara itu, Direktur Utama PHR Jaffee A Suardin mengatakan, melalui fasilitas DICE ini, jika terdapat kendala di lapangan, tim-tim terkait dapat langsung berdiskusi untuk mencari solusi terbaik. Ini merupakan salah satu wujud semangat Go Collaborative Pertamina untuk mencapai operasi hulu migas yang produktif dan efisien.

"Fasilitas Digital & Innovation Center ini sangat mendukung rencana kerja masif dan agresif di WK Rokan, termasuk program pengeboran 400 hingga 500 sumur pada tahun ini," ujar Jaffee.

PHR juga memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang dapat dimanfaatkan, antara lain, untuk pengaturan jadwal perawatan ulang (workover) sumur secara otomatis; perencanaan pergerakan rig yang lebih optimal dan efisien; identifikasi kinerja pompa yang sudah tidak optimal; analisa dan pengukuran aliran minyak agar produksi optimal; serta pemantauan jarak jauh dan saling terintegrasi untuk kondisi tekanan fluida di dalam sumur minyak.

Pada 9 Agustus 2022, WK Rokan genap satu tahun dikelola oleh PHR. Tingkat produksi WK migas terbesar kedua di tanah air itu sekitar 161 ribu BOPD (barel minyak per hari), jauh lebih baik dibandingkan prediksi yang berada di kisaran 142 ribu BOPD jika tidak melakukan kegiatan masif dan agresif.

Sejak hari pertama alih kelola, PHR langsung tancap gas dengan rencana kerja yang masif dan agresif melalui target pengeboran 400 hingga 500 sumur baru pada tahun ini. Jumlah rig pengeboran meningkat dari 9 rig menjadi 21 rig pada saat ini. Jumlahnya akan terus ditambah menjadi hingga 27 rig pada akhir tahun ini. Begitu juga dengan jumlah rig kerja ulang dan perbaikan sumur (WO/WS), dari 25 rig kini menjadi 32 rig WO/WS.

 

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA