Thursday, 7 Jumadil Awwal 1444 / 01 December 2022

Petani di Luwu Timur Ingin Harga Kakao Membaik

Ahad 07 Aug 2022 05:05 WIB

Red: Fuji Pratiwi

Petani memanen kakao di kebun miliknya (ilustrasi). Petani kakao di wilayah Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, menginginkan harga kakao semakin membaik seiring dengan pemulihan ekonomi nasional.

Petani memanen kakao di kebun miliknya (ilustrasi). Petani kakao di wilayah Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, menginginkan harga kakao semakin membaik seiring dengan pemulihan ekonomi nasional.

Foto: Antara/Harviyan Perdana Putra
Petani berharap harga kakao kembali membaik di kisaran Rp 35 ribu per kilogram biji.

REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR -- Petani kakao di wilayah Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, menginginkan harga kakao semakin membaik seiring dengan pemulihan ekonomi nasional.

"Kami berharap harga kakao kembali membaik di kisaran Rp 35 ribu per kilogram biji, sehingga tidak kalah dengan harga sawit di lapangan," kata petani kakao sekaligus pembina petani, Suardi.

Baca Juga

Dia mengatakan, dilema yang dihadapi petani sejak tahun lalu adalah tetap bertahan sebagai petani kakao dengan harga yang tidak seimbang dengan biaya produksi. Atau, beralih menjadi petani sawit yang harga produksinya menjanjikan.

Menurut dia, harga kakao kering setelah melalui proses fermentasi di lapangan rata-rata dibeli jauh di bawah Rp 35 ribu per kilogram. Sementara harga kakao basah tanpa proses pengeringan dan fermentasi, rata-rata dibeli pihak perusahaan coklat yakni PT Mars di wilayah Luwu Timur dan Luwu Utara Rp 12.500 per kilogram.

"Jika dibandingkan menjual basah dan kering itu, petani lebih untung jika menjual kakao setelah panen, karena hemat tenaga dan waktu untuk mengeringkan biji kakao itu," paparnya.

Menurut Suardi, kualitas produksi sangat menentukan harga di lapangan, karena itu ia mengajak petani meningkatkan kualitas tanpa pengabaikan kuantitas juga. "Salah satu upaya tersebut melalui pemeliharaan tanaman dengan baik, pemupukan yang berimbang dan pengembangan tanaman kakao ke depan," ujarnya.

Karena itu, lanjut Suardi, cara lain untuk meningkatkan kesejahteraan petani kakao dengan pengembangan bibit unggul tanaman. Dia mengatakan, untuk pengembangan bibit tanaman kakao itu, pihaknya mengajarkan teknik sambung samping dan sambung pucuk kepada petani setelah belajar sebelumnya di CDC Tarengge binaan PT Mars.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan Kabupaten Luwu Timur, Amrullah mengatakan, secara berkala memberikan pelatihan agribisnis kepada petani, baik petani kakao maupun sawit. "Pelatihan itu sangat berguna bagi sektor pertanian ke depan dan akan terus dilakukan guna meningkatkan SDM penyuluh pertanian dan petaninya," katanya.

 

sumber : ANTARA
Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA