Saturday, 22 Muharram 1444 / 20 August 2022

Banyak yang Buntung, Ini Tips Aman Berinvestasi

Sabtu 06 Aug 2022 07:51 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Ilustrasi Pertumbuhan Investasi

Ilustrasi Pertumbuhan Investasi

Foto: Pixabay
Investor tidak bisa sekadar asal nyemplung tanpa pertimbangan matang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Memilih investasi aman dan berkembang menjadi hal penting bagi investor. Karena tak jarang banyak orang berniat investasi, justru berakhir buntung. Ingin untang besar, tapi malah tak ada satu pun yang diperoleh bahkan kehilangan uang.

Satgas Investasi mencatat kerugian akibat investasi bodong dalam kurun beberapa waktu terakhir jumlah cukup fantastis. Kerugian masyarakat akibat investasi ilegal tahun 2018-2022 mencapai Rp16,7 Triliun.

Baca Juga

Menurut perencana keuangan dari Insight Finansia Consulting Ruisa Khoiriyah, dalam berinvestasi, investor tidak bisa sekadar asal "nyemplung" atau ikut-ikutan tanpa pertimbangan matang. Ada beberapa hal yang perlu dipahami sebelum memutuskan berinvestasi, baik itu berinvestasi di produk berisiko tinggi, menengah ataupun rendah. "Pertama, keuangan harus dalam kondisi sehat lebih dulu," ujarnya, Sabtu (6/8/2022).

Artinya, pastikan dulu keuangan sehat yang ditandai dengan beberapa indikator seperti cashflow positif, rasio utang aman dan lain sebagainya. Jangan sampai terjadi, cashflow masih pincang dan dana darurat belum aman, asuransi dasar tidak ada, rasio utang tinggi, tapi malah sudah "nyemplung" ke investasi.

Kedua, yakni mengenali profil risiko sebagai investor. "Apakah profil kita sebagai investor adalah konservatif, moderat atau agresif?"  

Investasi di produk berisiko tinggi, misalnya, hanya cocok untuk mereka yang berprofil risiko agresif dan untuk mendukung tujuan keuangan jangka panjang.

Ketiga, pastikan berinvestasi dengan 'uang dingin'. Uang dingin atau uang "nganggur" (disposible income) adalah uang yang ketika nilainya turun atau hilang karena investasi, maka kehidupan di pemilik modal tidak terganggu. Kebutuhan hidup dan kewajiban-kewajiban seperti pembayaran cicilan kredit dan biaya sekolah anak, tetap aman. "Jangan sekali-sekali investasi memakai uang yang sebenarnya bukan kategori disposable income," tandas Ruisa.

Keempat, memiliki tujuan investasi. Termasuk di sini harus merumuskan target dana yang hendak dicapai melalui investasi. Selanjutnya target waktu pemakaian dana, asumsi hitungan investasi, instrumen yang sesuai dengan time horizon investasi dan profil risiko. "Termasuk exit strategy bila kinerja investasi tidak sesuai dengan perkiraan hitungan awal."

Kelima, kenali produk investasi. Ada banyak pilihan produk investasi yang bisa ditimbang. Seorang investor perlu memahami produk tersebut sebelum memutuskan menanam modal. Termasuk di sini adalah memahami tingkat risiko, underlying asset, dan sebagainya. Ruisa juga menekankan bahwa pemilihan produk investasi juga bisa disesuaikan dengan target waktu pemakaian karena itu terkait dengan capaian yang diinginkan.   

"Misalnya, kita berinvestasi untuk dana pendidikan anak yang akan kita gunakan enam tahun lagi, maka instrumen investasi jangka panjang yang cukup agresif bisa jadi pilihan dan diharap bisa membantu melawan inflasi jangka panjang sekaligus juga memoderasi risiko," paparnya.

Lantas apakah kripto aman?

Menurut Ruisa, kripto, meskipun banyak yang legal, namun termasuk dalam kategori berisiko tinggi. Hal itu bisa dilihat dari pergerakan harganya. Bisa jadi kripto memiliki peluang memberi untung. Namun, potensi untung itu setara dengan tingkat risikonya yang juga tinggi. "Kripto cocok untuk pemodal yang advanced dengan disposable income yang ingin meraup untung cepat," ujarnya.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA