Saturday, 22 Muharram 1444 / 20 August 2022

Mereka yang Ngoyo Kejar Kesenangan Justru Belum Tentu Bahagia

Sabtu 06 Aug 2022 06:05 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah

Berdoa untuk kebahagian hakiki. Ilustrasi. Kebahagian bukan terletak pada kesenangan dunia berupa harta dan jabatan

Berdoa untuk kebahagian hakiki. Ilustrasi. Kebahagian bukan terletak pada kesenangan dunia berupa harta dan jabatan

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Kebahagian bukan terletak pada kesenangan dunia berupa harta dan jabatan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pengasuh Pondok Pesantren La Tansa Banten, KH Adrian Mafatihullah Kariem mengungkapkan pesan moral dari novel terbarunya yang berjudul Pangeran Tak Berharap Mahkota.

Menurut dia, pesan yang ingin disampaikan lewat nove terbitan Republika Penerbit ini adalah tentang perbedaan kebahagiaan dan kesenangan.

Baca Juga

“Pesan moral, esensi dari yang ingin disampaikan dari Pangeran Tak Berharap Mahkota ini, beda antara bahagia dan kesenangan,” ujar Kiai Adrian dalam acara bedah buku Pangeran Tak Berharap Mahkota di di panggung utama Islamic Book Fair (IBF) 2022, Gedung JCC Jakarta, Jumat (5/8/2022).

Dia menjelaskan bahwa orang yang hanya mengejar kesenangan belum tentu mendapatkan kebahagiaan.

“Kalau kita berbicara maslaah bahagia pasti hidupnya senang. Tapi, kalau hanya mengejar kesenangan belum tentu kebahagiaan itu akan datang. Kemenangan akan hilang,” ucap Kiai Adrian di hadapan ratusan santrinya yang mengikuti bedah novel tersebut.

Kiai Adrian mengatakan, bahagia itu universal, bisa saja bahagia itu datang dari jabatan, dari rupa, dari kepintaran, dari harta. Menurut dia, bahagia itu adanya di jiwa yang ikhlas, bersabar, dan di jiwa yang mengikuti sebuah proses.

“Bahagia itu adalah cipta. Bahagia itu berwujud kasih sayang, bahagia itu wujud Tuhan, bahagia itu pasti akan meluluhlantahkan keangkuhan. Maka kebahagiaan kecenderungan bersandar pada ketenangan, tetapi kesenangan bersandar pada kesombongan,” kata Kiai Adrian.

Karena itu, menurut dia, orang yang berbahagia hidupnya pasti senang dan menyenangkan orang. Tetapi, lanjutnya, orang yang senang belum tentu bisa membahagiakan orang lain. “Itu sebuah pesan dan esensi dari buku ini,” jelas Kiai Adrian.

Dia menambahkan, terkadang kebahagiaan itu bisa diraih bukan dari rasa senang, tapi kebahagiaan itu diraih ketika kita sakit. Menurut dia, kebahagiaan itu diraih ketika kita lagi tertawa. Tetapi, kebahagiaan yang hakiki itu teraih dari sebuah kesedihan, diawali dari sebuah nyinyiran, fitnah, bulliying, dan sebagainya.

“Di situlah kebahagiaan akan muncul, jiwa besar akan tumbuh, maka dia akan meluluhlantahkan tembok-tembok kegagalan,” kata kiai novelis ini.

Novel ini ingin menegaskan bahwa kesempurnaan tidak terletak pada kerupawanan dan harta yang melimpah. Namun, fakta ini sering dikesampingkan, termasuk oleh Sultan, seorang pemuda kaya raya yang menjalani hidup bak pangeran dengan segala kemudahan dan kemewahan, tapi tak sepenuhnya bahagia.

Dengan kesederhanaan dan kebaikannya, gadis desa yang bernama Bunga itu kemudian hadir untuk melucuti keangkuhan Sultan. Namun, takdir memisahkan keduanya ketika bibit cinta mulai tumbuh. Dalam cerita novel ini, para pembaca akan mendapat pelajaran berharga untuk menjadi seorang lelaki sejati.      

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA