Saturday, 15 Muharram 1444 / 13 August 2022

Blokade Israel, Pembangkit Listrik Gaza Terancam Tutup

Jumat 05 Aug 2022 14:22 WIB

Rep: Mabruroh/ Red: Agung Sasongko

Warga Palestina berjalan melewati bendera Mesir di sisi jalan di Beit Lahiya, di utara Jalur Gaza, 25 Januari 2022. Setelah bertahun-tahun bekerja di belakang layar, Mesir kini mengambil peran lebih besar di Gaza.

Warga Palestina berjalan melewati bendera Mesir di sisi jalan di Beit Lahiya, di utara Jalur Gaza, 25 Januari 2022. Setelah bertahun-tahun bekerja di belakang layar, Mesir kini mengambil peran lebih besar di Gaza.

Foto: AP Photo/Khalil Hamra
Blokade memiliki dampak serius pada standar hidup bagi penduduk Gaza.

REPUBLIKA.CO.ID,YERUSALEM — Pembangkit listrik satu-satunya Gaza harus ditutup dalam waktu 48 jam jika penguatan blokade yang diberlakukan di Jalur Gaza oleh Israel tidak berakhir. Para pejabat memperingatkan pada Kamis (4/8/2022) ketika ketegangan perbatasan memanas menyusul penangkapan seorang pemimpin militan Palestina.

Pihak berwenang Israel telah menutup semua penyeberangan ke Gaza, memutus akses untuk truk bahan bakar yang memasok pabrik, atas kekhawatiran serangan pembalasan setelah penangkapan Bassam Al-Saadi, seorang pemimpin senior kelompok Jihad Islam Palestina pada hari Senin.

Baca Juga

Pembatasan tersebut merupakan intensifikasi pengepungan yang telah dilakukan sejak 2007. Blokade memiliki dampak serius pada standar hidup bagi penduduk Gaza yang miskin, dan karenanya kelompok-kelompok hak asasi manusia mengecamnya sebagai bentuk hukuman kolektif ilegal.

Mereka juga menghadapi pemadaman listrik yang membuat mereka hanya mendapatkan pasokan listrik selama 10 jam sehari. Kini blokade yang diperkatat akan membuat penduduk Gaza menghadapi pemadaman lebih lanjut jika pembangkit berhenti beroperasi, meninggalkan satu-satunya sumber daya eksternal daerah kantong itu dengan pasokan harian 120 megawatt yang berasal dari Israel.

"Itu akan berdampak besar pada kehidupan sehari-hari lebih dari dua juta orang dan layanan vital," kata Mohammad Thabit, dari perusahaan distribusi listrik Gaza dilansir dari Alaraby, Jumat (5/8/2022).

Selain menghentikan pengangkutan barang dan bantuan ke Gaza, penutupan itu yang memasuki hari ketiga pada Kamis (4/8) juga telah mencegah pekerja menyeberang ke Israel. Warga di pihak Israel telah mengeluhkan pembatasan pergerakan.

Mediator Mesir meningkatkan upaya dengan Israel dan Jihad Islam Palestina untuk menurunkan ketegangan setelah penangkapan Saadi dalam serangan di kota Jenin, Tepi Barat yang diduduki, di mana seorang anggota Jihad Islam berusia 17 tahun tewas.

Kelompok itu menyatakan waspada penuh di antara para pejuangnya, menyiratkan ancaman pembalasan segera, setelah rekaman yang beredar di media Israel tampaknya menunjukkan Saadi mungkin terluka selama penangkapannya.

“Kami telah melakukan kontak dengan pejabat Mesir tetapi sejauh ini belum ada hasil yang memuaskan, oleh karena itu, status siaga penuh tetap ada," kata juru bicara Jihad Islam Daoud Shehab.

Juru bicara Hamas, Abdel-Latif Al-Qanoua, kelompok militan yang menguasai Gaza mengutuk penutupan Israel dan mengatakan kelompoknya juga telah melakukan pembicaraan dengan para penengah.

"Kami tidak akan menerima penutupan perlintasan yang terus berlanjut dan kebijakan hukuman kolektif," katanya.

Pejabat Israel sejauh ini tidak memberikan komentar tentang keadaan penangkapan Saadi dan menyarankan blokade yang diperketat akan tetap berlaku sementara ancaman Jihad Islam terus berlanjut.

https://english.alaraby.co.uk/news/gazas-only-power-plant-faces-shutdown-given-israel-blockade

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA