Friday, 14 Muharram 1444 / 12 August 2022

Gelombang Panas dan Kurangnya Pepohonan di Paris

Sabtu 06 Aug 2022 00:15 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Esthi Maharani

Warga mendinginkan diri di kolam air mancur Trocadero dengan latar belakang menara Eiffel di Paris, Prancis, Selasa (25/6). Gelombang panas menerjang Eropa. Suhu 45 derajat Celsius diperkirakan terjadi di Prancis.

Warga mendinginkan diri di kolam air mancur Trocadero dengan latar belakang menara Eiffel di Paris, Prancis, Selasa (25/6). Gelombang panas menerjang Eropa. Suhu 45 derajat Celsius diperkirakan terjadi di Prancis.

Foto: AP Photo/Alessandra Tarantino
Paris tempati peringkat buruk di antara kota-kota global untuk wilayah tutupan hijau

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Gelombang panas di Prancis pekan ini mencapai 56 derajat celsius. Hal ini diperparah tidak adanya pohon-pohon di sekitar kota.

Place de l'Opera adalah salah satu dari banyak titik panas perkotaan di ibu kota Prancis. Wilayah ini tidak memiliki pepohonan yang bisa mendinginkan kota dengan memberikan keteduhan dan dipandang sebagai garis pertahanan utama terhadap perubahan iklim serta musim panas yang semakin membakar.

Hanya satu menit berjalan kaki, di bawah rimbunan pohon sepanjang Boulevard des Italiens, termometer Le Dantec menunjukkan angka 28 derajat Celcius. "Segera ada sedikit angin. Anda bisa bernapas," ujar pendiri kelompok aksi menentang penebangan pohon Aux Arbres Citoyens, Le Dantec.

Paris menempati peringkat buruk di antara kota-kota global untuk wilayah tutupan hijau. Menurut data dari Forum Budaya Kota Dunia, hanya 10 persen dari wilayah Paris yang terdiri dari ruang hijau seperti taman dan kebun dibandingkan dengan London sebesar 33 persen dan Oslo sebesar 68 persen.

Menurut badan cuaca nasional Meteo France, bulan lalu adalah Juli terpanas yang tercatat di Prancis. Suhu yang membakar menggarisbawahi perlunya memperkuat pertahanan kondisi alami ibu kota terhadap pemanasan global.

Balai Kota Paris ingin menciptakan wilayah kesegaran dan berencana menanam 170.000 pohon pada 2026. Balai Kota Paris juga membongkar beton di lusinan halaman sekolah dan meletakkan tanah dan tumbuh-tumbuhan.

"Ini adalah proyek penanaman pohon dan vegetasi besar yang sedang berlangsung, jauh lebih besar daripada di bawah pemerintahan sebelumnya," kata Wakil Walikota Paris Jacques Baudrier yang ditugaskan untuk transisi energi hijau di gedung-gedung.

Tapi, ambisi hijau Balai Kota telah memicu beberapa protes. Le Dantec dan juru kampanye ekologi lainnya mengatakan, pemerintah setempat telah menebang puluhan pohon berusia puluhan tahun untuk membuka jalan bagi ruang taman.

Dalam menggambar ulang lanskap kota, penebangan pohon dewasa bertentangan dengan ambisi pihak berwenang sendiri. Hal itu mengingat pohon muda lebih rentan terhadap kekeringan dan kurang berguna dalam memerangi radiasi panas.

Pada April, aktivis hijau Thomas Brail merekam video lebih dari 70 pohon yang ditebang di pinggiran utara kota. Tindakan itu untuk memberi jalan bagi visi Walikota Anne Hidalgo untuk "sabuk hijau" di sekitar kota.

Perencana kota Balai Kota mengatakan, Paris tidak dapat dirancang ulang untuk menghadapi perubahan iklim dengan lebih baik tanpa menebang beberapa pohon. "Pohon-pohon ini memiliki peran untuk dimainkan," ujar Brail.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA