Kamis 04 Aug 2022 14:16 WIB

Mengapa Penting Cegah Stunting?

Bonus demografi tidak berguna jika banyak anak kena stunting.

ilustrasi Stunting
Foto: Republika/Mardiah
ilustrasi Stunting

Oleh : Gita Amanda, Jurnalis Republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Kata-kata stunting tentu tak asing lagi di telinga kita belakangan. Bagaimana tidak, pemerintah memang sedang gencar-gencarnya menggaungkan pencegahan stunting pada anak-anak di negeri ini.

Target pemerintah, pada 2024 prevelansi penurunan stunting hingga diangka 14 persen. Asal tahu saja, menurut Kepala BKKBN Hasto Wardoyo berdasarkan data Maret lalu angka stunting di Indonesia mencapai 24,4 persen. Artinya dari 23 juta balita Indonesia, sekitar 6,1 jutanya masih mengalami stunting.

Meski masih dibawah standar WHO untuk sebuah negara darurat stunting yakni 20 persen. Tapi tetap saja, angka 6,1 juta anak mengalami stunting itu angka yang tinggi.

Kenapa sih harus dicegah?

Jadi begini, pemerintah mencanangkan Indonesia Emas 2045. Pada momen 100 tahun kemerdekaan Indonesia itu, diharapkan negara ini diisi oleh generasi emas. Apa sih generasi emas? Ya, generasi yang sehat secara fisik dan mental, cerdas, damai, produktif, inovatif, berkarakter dan berperadaban.

Dikutip dari Indonesia Baik.id, di masa itu juga diprediksi 70 persen penduduk Indonesia dalam usia produktif. Dimana disebut-sebut pada masa itu Indonesia mengalami bonus demografi.

Nah, untuk mempersiapkan ke sana maka saat ini pemerintah semakin menggencarkan upaya pencegahan stunting. Karena, jika angka stunting ini tidak ditekan maka Indonesia Emas 2045 tentu akan sulit tercapai. Bayangkan jika, terus dibiarkan maka anak-anak stunting ini yang akan mewarnai Indonesia di 2045.

Bagaimana bisa mencapai target generasi emas jika anak-anaknya saat ini banyak mengalami stunting? Seperti sudah banyak dijelaskan, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh atau gangguan tumbuh kembang anak akibat kurang asupan gizi.

Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas UI Profesor Dr dr Rini Sekartini SpA(K) bilang, stunting bisa memperlambat perkembangan otak anak, membuat anak mengalami keterbelakangan mental dan rendah dalam kemampuan menangkap pelajaran.

Lebih jauh, anak stunting akan mudah sakit. Kemampuan kognitifnya berkurang, postur tubuh tak maksimal saat dewasa, fungsi tubuh tak seimbang, dan berisiko terkena penyakit kronis saat tua.

Bayangkan, jika bonus demografi yang dimiliki Indonesia di 2040an diisi oleh anak-anak stunting ini? Tentu impian Indonesia Emas tak akan tercapai.

Berbagai upaya dilakukan

Makanya, sekarang pemerintah terus menggencarkan edukasi mengenai pencegahan si stunting ini. Nggak tanggung-tanggung tak lagi dimulai pada 1.000 hari pertama anak saja, tapi sejak pasangan baru akan menikah edukasi ini sudah disampaikan.

Tujuannya agar, setiap pasangan yang akan jadi orang tua ini memperhatikan pemenuhan asupan gizi mereka. Harapannya dengan asupan gizi yang cukup bagi orang tua, saat nanti sang ibu mengandung maka asupan gizi jabang bayi ini juga akan tercukupi.

Pemerintah bergerak hingga ke lingkup terkecil yakni keluarga. Para kader Posyandu dan PKK digerakkan, mengedukasi soal stunting dan asupan gizi ibu sejak masa kehamilan. Perkembangan mereka sejak hamil dipantau. Tujuannya ya itu tadi, mencegah bayi-bayi baru lahir mengalami stunting.

Bagaimana jika terkena stunting?

Jika di bawah usia dua tahun akan lebih mudah mengatasi stunting. WHO bahkan menyatakan, pemberian Air Susu Ibu (ASI) akan sangat membantu pencegahan stunting pada anak. Pemenuhan gizi seimbang dalam setiap asupan anak. Pemantauan oleh posyandu di setiap lingkungan tempat tinggal. Hingga akses air bersih dan fasilitas sanitasi yang memadai.

Namun, yang agak sulit jika anak stunting baru diketahui selepas usia dua tahun. Keterlambatan pada anak sudah terjadi. Yang bisa dilakukan orang tua adalah meminimalisir dampak keterlambatan, dan terus berupaya maksimal hingga anak melewati masa pubertas.

Jadi sebagai orang tua sadari sedini mungkin keterlambatan tumbuh kembang anak. Ada sejumlah ciri stunting yang bisa dikenali, misalnya tinggi dan berat anak tak sesuai dengan standar tinggi dan berat anak seusianya. Pertumbuhan anak melambat, wajah lebih muda dari usianya, pubertas terlambat.

Meski tinggi dan berat badan jadi indikasi paling mudah dikenali dari anak stunting, tapi tak semua anak pendek mengalami stunting. Anak stunting pasti pendek, tapi anak pendek belum tentu stunting.

Anak stunting umumnya tak dapat bertumbuh secara normal hingga dewasa. Sementara anak bertubuh pendek dapat tumbuh normal jika penyebabnya teratasi.

Misalnya jika dia pendek karena keterlambatan pertumbuhan maka akan dapat tumbuh normal jika keterlambatannya diatasi. Anak-anak yang terlambat tumbuh ini bisa jadi mengalami lonjakan pertumbuhan di masa pubertas.

Tapi apa anak stunting bisa diobati? Dikutip dari salah satu media nasional, dokter spesialis gizi Diana Suganda mengatakan stunting bisa diobati namun membutuhkan waktu lama dan kegigihan orang tua. Pola makan dan jam makan jadi dua hal yang harus dibenahi.

Ini bukan hal mudah, butuh konsistensi dan kegigihan orang tua. Selain itu, asupan makanan bergizi penting diperhatikan orang tua. Tak hanya membuat anak kenyang tapi juga sehat dan terpenuhi gizinya. Kecukupan gizi ini yang akan berpengaruh besar pada pertumbuhan otak anak di masa depan.

Jadi, please untuk para orang tua lebih peduli pada kondisi putra putrinya. Pastikan anak mendapat asupan makanan bergizi seimbang sejak dini, ingat tak hanya sekadar anak kenyang tapi gizinya harus diperhatikan. Supaya apa? Supaya stunting dapat terus ditekan dan Indonesia Emas 2045 bisa diwujudkan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement