Wednesday, 13 Jumadil Awwal 1444 / 07 December 2022

Kerja Sama Kesehatan dan Ketahanan Pangan Jadi Isu Utama di Pertemuan ASEAN

Rabu 03 Aug 2022 16:46 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Friska Yolandha

Dari kiri ke kanan; Menteri Luar Negeri Vietnam But Thanh Son, Menteri Luar Negeri Kamboja Peak Sokhonn, Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri Kedua Brunei Erywan Yusof, berfoto bersama selama Sidang Pleno Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN ke-55 (AMM ke-55) di Phnom Penh, Kamboja, Rabu, 3 Agustus 2022.

Dari kiri ke kanan; Menteri Luar Negeri Vietnam But Thanh Son, Menteri Luar Negeri Kamboja Peak Sokhonn, Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri Kedua Brunei Erywan Yusof, berfoto bersama selama Sidang Pleno Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN ke-55 (AMM ke-55) di Phnom Penh, Kamboja, Rabu, 3 Agustus 2022.

Foto: AP Photo/Heng Sinith
Isu kesehatan harus menjadi perhatian negara anggota ASEAN.

REPUBLIKA.CO.ID, PHNOM PENH -- Isi kesehatan masih menjadi pembahasan utama dalam pertemuan para menteri luar negeri negara anggota ASEAN ke-55 atau Pertemuan Pleno 55th ASEAN Foreign Ministers’ Meeting (AMM), pada Rabu (3/8/2022). Dalam pidatonya Menlu Retno Marsudi menekankan kerja sama ASEAN pada isu kesehatan harus terus menjadi perhatian.

"Tantangan kesehatan tetap akan ada ke depan, oleh karena itu memastikan kesiapan ASEAN untuk mengatasi tantangan kesehatan saat ini dan di masa mendatang sangat penting artinya”, kata Retno dalam keterangan pers Kementerian Luar Negeri RI, Rabu.

Baca Juga

Retno mendesak penggunaan maksimal pada mekanisme ASEAN yang ada saat ini, termasuk mempercepat operasionalisasi dan menjamin ketersediaan dana untuk ASEAN Centre for Public Health Emergency and Emerging Diseases (ACPHEED). Sebab program ini memiliki pilar pencegahan, deteksi dan respons. 

"ACPHEED akan memiliki centers di masing-masing Indonesia, Thailand dan Vietnam. Saat ini sedang dibahas modalitas pembentukan ACPHEED di ketiga negara," ujar Retno.

Selain itu, Retno juga mendorong ASEAN untuk juga mengamati ketahanan pangan di kawasan negara-negara anggota ASEAN. Memperkuat mekanisme kawasan juga menjadi pembahasan Retno dalam pertemuan tersebut.

Hal ini penting untuk lebih memperkuat ketahanan pangan khususnya dengan negara-negara ASEAN Plus Three/APT (China, Jepang, Korea Selatan). Dalam kaitan ini, Indonesia telah menyampaikan catatan konsep mengenai pentingnya memperkuat ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve Agreement (APTEER).

Konsep tersebut mengusulkan peningkatan jumlah pasokan beras dari negara ASEAN Plus Three serta penambahan jenis komoditas pangan dalam APTERR. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA