Thursday, 10 Rabiul Awwal 1444 / 06 October 2022

Perubahan Iklim Dimungkinkan Picu Kepunahan Manusia

Selasa 02 Aug 2022 15:50 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Friska Yolandha

Kondisi sawah yang terendam banjir di Carita, Pandeglang, Banten, Sabtu (19/3/2022). Kenaikan suhu meningkatkan risiko gagal panen di daerah pertanian paling subur di dunia.

Kondisi sawah yang terendam banjir di Carita, Pandeglang, Banten, Sabtu (19/3/2022). Kenaikan suhu meningkatkan risiko gagal panen di daerah pertanian paling subur di dunia.

Foto: Antara/Muhammad Bagus Khoirunas
Kenaikan suhu meningkatkan risiko gagal panen di daerah pertanian paling subur.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Tim peneliti internasional di Cambridge University dalam menyusun laporan yang diterbitkan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences. Dalam laporannya, mereka memperingatkan, dunia harus bersiap terhadap kemungkinan kepunahan umat manusia akibat efek perubahan iklim.

Para peneliti mengungkapkan, pemanasan global bisa menjadi bencana bagi umat manusia jika suhu bumi naik lebih dari yang diperkirakan. Atau jika kenaikan suhu memicu rantai peristiwa tak terduga di alam yang tetap berujung pada berakhirnya semua kehidupan manusia di bumi. Mereka menilai, perubahan iklim adalah topik berbahaya yang kurang dieksplorasi.

Baca Juga

"Ada banyak alasan untuk percaya bahwa perubahan iklim bisa menjadi bencana besar, bahkan pada tingkat pemanasan yang sederhana," kata Dr Luke Kemp dari University of Cambridge’s Centre for the Study of Existential Risk, Senin (1/8/2022), dikutip the Gurdian.

Dia mengungkapkan, perubahan iklim telah berperan dalam setiap peristiwa kepunahan massal. “Bahkan dunia modern tampaknya beradaptasi dengan ceruk iklim tertentu. Jalan menuju bencana tidak terbatas pada dampak langsung dari suhu tinggi, seperti peristiwa cuaca ekstrem,” ucapnya.

“Efek langsung seperti krisis keuangan, konflik, dan wabah penyakit baru dapat memicu bencana lain, dan menghambat pemulihan dari potensi bencana seperti perang nuklir,” tambah Dr Luke Kemp.

Dalam laporannya, para peneliti dari Cambridge University mengatakan konsekuensi lebih dari -14 derajat celcius dari pemanasan global, dibandingkan dengan masa pra-industri, belum dieksplorasi dengan cukup baik oleh penelitian sebelumnya. Tahun lalu, laporan dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyarankan bahwa jika CO2 atmosfer berlipat ganda dari tingkat pra-industri, ada sekitar 18 persen kemungkinan bahwa suhu akan naik melampaui -13 derajat celcius.

photo
Sepasang kekasih berjemur di pantai Blyth, Northumberland, di pantai timur laut Inggris, Senin 18 Juli 2022. Peringatan panas ekstrem pertama di Inggris berlaku untuk sebagian besar Inggris saat pihak berwenang bersiap menghadapi rekor suhu tinggi yang sudah mengganggu perjalanan , perawatan kesehatan dan sekolah. Peringatan merah akan berlangsung sepanjang Senin dan Selasa ketika suhu bisa mencapai 40 derajat Celcius (104 Fahrenheit) untuk pertama kalinya, menimbulkan risiko penyakit serius dan bahkan kematian di antara orang sehat, menurut Kantor Met Inggris, cuaca negara itu. melayani. - (AP/Owen Humphreys/PA)
Menurut Climate Action Tracker, dunia berada di jalur untuk pemanasan 5,2 derajat fahrenheit pada tahun 2100 jika kebijakan pemerintahan-pemerintahan saat ini, yang notabene bertentangan dengan janji mereka, berlanjut tanpa perubahan. Para ilmuwan mengatakan -16 derajat celcius adalah tingkat pemanasan yang aman.

Kenaikan suhu meningkatkan risiko gagal panen di daerah pertanian paling subur di dunia. Sementara itu, cuaca yang lebih panas dapat menyebabkan wabah penyakit baru yang mematikan karena habitat manusia dan hewan berubah secara dramatis.

Tim peneliti dari Cambridge University memprediksi, negara adidaya yang berteknologi maju mungkin akan saling bertarung dalam “perang hangat”. Itu adalah situasi ketika mereka memperebutkan ruang karbon yang semakin menipis dan bahkan mendanai eksperimen mahal untuk membelokkan sinar matahari serta mengurangi suhu global.

Menurut tim peneliti Cambridge University, peneliti perlu lebih memahami titik kritis yang dapat memicu bencana, seperti mencairnya lapisan es yang melepaskan metana, hilangnya hutan yang menyimpan karbon, dan bahkan tutupan awan. Mereka menyerukan IPCC menyusun laporan tentang bencana perubahan iklim dalam upaya untuk meningkatkan penelitian dan menginformasikan publik dengan lebih baik.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA