Thursday, 10 Rabiul Awwal 1444 / 06 October 2022

Sri Mulyani Ungkap Penyebab Inflasi Terus Meningkat

Selasa 02 Aug 2022 03:10 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Fuji Pratiwi

Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan keterangan pers hasil rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (1/8/2022). Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan stabilitas sistem keuangan Indonesia berada dalam kondisi terjaga ditengah tekanan perekonomian global yang meningkat.

Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan keterangan pers hasil rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (1/8/2022). Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan stabilitas sistem keuangan Indonesia berada dalam kondisi terjaga ditengah tekanan perekonomian global yang meningkat.

Foto: Prayogi/Republika.
Hal ini karena kenaikan harga-harga komoditas dunia dan gangguan pasokan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah mengungkapkan penyebab laju inflasi meningkat dalam waktu terakhir. Hal ini dikarenakan sisi penawaran, seiring dengan kenaikan harga-harga komoditas dunia, dan ada gangguan pasokan di domestik

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan laju inflasi pada Juli 2022 sebesar 4,94 persen (year-on-year/yoy). Angka ini meningkat dibandingkan dengan Juni 2022 sebesar 4,35 persen (yoy).

Baca Juga

"Laju inflasi menunjukkan tren meningkat, disebabkan karena sisi penawaran, seiring dengan kenaikan harga-harga komoditas dunia, dan ada gangguan pasokan di domestik," ujarnya saat konferensi pers KSSK secara virtual, Senin (1/8/2022).

Sri Mulyani mengatakan posisi inflasi akhir kuartal I 2022 masih pada tingkat 2,4 persen (yoy). Meskipun inflasi meningkat, Sri Mulyani menyebut inflasi inti tetap terjaga 2,86 persen (yoy).

"Hal ini didukung oleh konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga ekspektasi inflasi Indonesia," imbuhnya.

Sinergi dan koordinasi terkait pengendalian inflasi, kata dia, dilakukan oleh Bank Indonesia bersama-sama dengan pemerintah, termasuk dengan meningkatkan koordinasi dan sinergi dalam forum pengendalian inflasi pusat dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID).

Menurutnya inflasi kelompok volatile food mengalami kenaikan terutama akibat kenaikan harga pangan global dan terganggunya pasokan akibat cuaca. Sementara itu, inflasi pada kelompok administered prices mengalami kenaikan dipengaruhi oleh kenaikan harga tiket angkutan udara.

Tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi global yang sangat tinggi tidak tertransmisikan ke dalam negeri pada administered price, harga minyak, gas, dan listrik.

"Ini merupakan hasil dari kebijakan pemerintah untuk mempertahankan harga jual energi di domestik melalui kenaikan subsidi listrik dan energi, BBM dan LPG, yang dialokasikan oleh APBN," ucap Sri Mulyani.

Dengan langkah tersebut, Sri Mulyani membandingkan kondisi inflasi Indonesia dibandingkan negara-negara yang sekelompok atau selevel, seperti Thailand sebesar 7,7 persen, India sebesar tujuh persen, Filipina sebesar 6,1 persen.

"Maka inflasi Indonesia yang 4,94 persen (yoy) masih relatif moderat," ucapnya.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA