Saturday, 15 Muharram 1444 / 13 August 2022

Raja Maroko Mengaku Terbuka untuk Memulihkan Hubungan dengan Aljazair

Senin 01 Aug 2022 14:01 WIB

Rep: Alkhaledi Kurnialam / Red: Christiyaningsih

Bendera negara Maroko. Raja Maroko Mohammed VI menegaskan kembali keterbukaannya untuk memulihkan hubungan dengan Aljazair. Ilustrasi.

Bendera negara Maroko. Raja Maroko Mohammed VI menegaskan kembali keterbukaannya untuk memulihkan hubungan dengan Aljazair. Ilustrasi.

Foto: EPA
Aljazair memutuskan hubungan diplomatik dengan Maroko pada 2021

REPUBLIKA.CO.ID, RABAT – Raja Maroko Mohammed VI menggunakan pidato pada Sabtu (30/7/2022) untuk menegaskan kembali keterbukaannya untuk memulihkan hubungan dengan Aljazair. Seperti diketahui, Aljazair memutuskan hubungan diplomatik dengan Maroko pada 2021 lalu.

“Kami bercita-cita untuk bekerja dengan kepresidenan Aljazair sehingga Maroko dan Aljazair dapat bekerja bergandengan tangan untuk membangun hubungan normal antara dua bangsa yang bersaudara,” kata Mohammed selama pidato tradisional yang menandai peringatan kenaikan tahtanya dilansir Arab News, Ahad (32/7/2022).

Baca Juga

“Saya tekankan sekali lagi bahwa perbatasan yang memisahkan saudara Maroko dan Aljazair tidak akan pernah menjadi penghalang yang menghalangi interaksi dan pemahaman mereka," tambahnya.

Dia juga mendesak warga Maroko untuk memelihara semangat persaudaraan, solidaritas, dan sikap bertetangga yang baik terhadap saudara-saudara di Aljazair. Maroko dan Aljazair memang telah lama berselisih mengenai wilayah Sahara Barat yang disengketakan, tempat Front Polisario yang didukung Aljazair mencari kemerdekaan dari kekuasaan Rabat.

Aljazair memutuskan hubungan diplomatik dengan Maroko pada Agustus 2021, menuduh Rabat melakukan tindakan bermusuhan. Kemudian Maroko menyebut keputusan itu adalah suatu yang benar-benar tidak dapat dibenarkan.

Status Sahara Barat yang disengketakan - bekas koloni Spanyol yang dianggap sebagai wilayah non-otonom oleh PBB, telah mengadu Maroko melawan Front Polisario sejak tahun 1970-an. Rabat, yang menguasai hampir 80 persen wilayah, mendorong otonomi di bawah kedaulatannya.

Front Polisario menginginkan referendum yang disponsori PBB tentang penentuan nasib sendiri. Kedaulatan Maroko atas wilayah itu didukung oleh Washington dalam kesepakatan 2020 yang juga melihat Rabat menormalkan hubungan dengan Israel.

Aljazair, yang mendukung perjuangan Palestina selain Front, telah mengambil kesempatan untuk mengkritik kerja sama militer Maroko yang berkembang dengan Israel, yang disebutnya sebagai entitas Zionis.

Mengacu pada tuduhan bahwa orang Maroko menghina Aljazair, Mohammed mengatakan itu adalah perbuatan oknum individu yang tidak bertanggung jawab yang mencoba menabur perselisihan. "Gosip tentang hubungan Maroko-Aljazair ini benar-benar tidak masuk akal dan terus terang mengerikan," tambahnya.

Raja juga menggunakan pidato pada Sabtu untuk menjanjikan reformasi kode keluarga demi hak-hak perempuan, perlindungan sosial, dan kontrol harga saat inflasi meningkat. Dia juga berjanji untuk melipatgandakan upaya vaksinasi untuk memerangi Covid-19. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA