Thursday, 7 Jumadil Awwal 1444 / 01 December 2022

BPS Catat Inflasi Tahunan Juli 2022 Tembus 4,94 Persen

Senin 01 Aug 2022 13:21 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolandha

Petani memilah cabai rawit jenis tiung tanjung varietas lokal sebelum dijual di Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Ahad (31/7/2022). Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) nasional periode 4 Juli hingga 29 Juli 2022, harga cabai rawit merah di Provinsi Kalimantan Selatan mengalami penurunan dari Rp100.850 per kilogram menjadi Rp83.750 per kilogram.

Petani memilah cabai rawit jenis tiung tanjung varietas lokal sebelum dijual di Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Ahad (31/7/2022). Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) nasional periode 4 Juli hingga 29 Juli 2022, harga cabai rawit merah di Provinsi Kalimantan Selatan mengalami penurunan dari Rp100.850 per kilogram menjadi Rp83.750 per kilogram.

Foto: ANTARA/Bayu Pratama S
Tren lonjakan inflasi hingga bulan Juli disebabkan oleh kenaikan harga pangan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS), mencatat laju inflasi tahunan hingga Juli tembus 4,94 persen year on year (yoy), mengalami kenaikan dari bulan sebelumnya sebesar 4,35 persen yoy. BPS menyatakan, tren lonjakan inflasi hingga bulan Juli disebabkan oleh kenaikan harga pangan sebagai pemicu utama.

"Inflasi tahunan ini merupakan yang tertinggi sejak Oktober 2015 yang saat itu mencapai 6,25 persen," kata Kepala BPS, Margo Yuwono, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (1/8/2022).

Baca Juga

BPS juga mencatat, inflasi bulanan pada Juli mencapai 0,64 persen month to month (mtm) dan inflasi tahun kalender sebesar 3,85 persen year to date (ytd). Selama bulan Juni, BPS mencatat 90 kota indeks harga konsumen (IHK) atau seluruhnya mengalami inflasi. Kota yang mengalami inflasi tertinggi terdapat di Kendari sebesar 2,27 persen mtm.

Ia menjelaskan, berdasarkan komponen, inflasi harga pangan bergejolak atau volatile foods mencapai 11,47 persen dan memberikan andil terbesar yakni 1,92 persen terhadap inflasi tahunan. Inflasi volatile foods itu, kata Margo juga tertinggi sejak Januari 2014

Adapun, inflasi harga yang diatur pemerintah atau administered price sebesar 6,51 persen dengan andil 1,15 persen. Sedangkan inflasi inti masih cukup terkendali sebesar 2,86 persen dengan andil 1,87 persen.

Margo mengatakan, inflasi secara tahunan memang mengalami peningkatan. Namun, bila dibandingkan sejumlah negara, Indonesia masih lebih baik. Ia juga menyebut, laju inflasi Indonesia masih aman.

"Kategori masih aman karena inflasi inti relatif rendah 2,86 persen. Itu menggambarkan fundamental ekonomi masih bagus," katanya.

Lebih Margo menuturkan, dilihat berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau merupakan yang terbesar yakni 9,35 persen yoy.

"Komoditas yang dominan memberikan andil adalah cabai merah, bawang merah, minyak goreng, dan rokok kretek filter," katanya.

Harga pangan dalam beberapa waktu terakhir memang mengalami kenaikan. Menurut BPS, itu disebabkan oleh faktor musiman cuaca yang berdampak pada tingkat produksi, terutama komoditas hortikultura.

Di sisi lain, pada bulan Juli, pemerintah juga melakukan penyesuaian terkait harga energi. Harga BBM jenis Pertamax Turbo naik 12 persen, Dexlite naik 16 persen, Pertamina Dex meningkat 20 persen, dan harga elpiji juga naik 14 persen.

Selain itu, penyesuaian tarif listrik golongan 3.500 volt ampere ke atas dan pelanggan pemerintah juga berpengaruh pada inflasi di bulan Juli. 

 Seperti diketahui, angka inflasi tahunan sejak Juni telah melampaui proyeksi awal pemerintah yang sebesar 3 plus minus 1 persen. Kementerian Keuangan pun menyatakan, merespons situasi harga komoditas global yang terus meningkat, inflasi tahunan 2022 diperkirakan akan mencapai 4,5 persen.  

 

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA