Ahad 31 Jul 2022 12:31 WIB

China tak Hanya Bebaskan Tarif Impor, Tapi Juga Beri Visa Warga Afghanistan

China ingin berbagi peluang pembangunan dengan Afghanistan

Kota Kabul Afghanistan (ilustrasi) China ingin berbagi peluang pembangunan dengan Afghanistan
Foto: AP Photo/Khwaja Tawfiq Sediqi
Kota Kabul Afghanistan (ilustrasi) China ingin berbagi peluang pembangunan dengan Afghanistan

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING— China menghapus 98 tarif barang-barang impor dari Afghanistan dan kembali memberlakukan penerbitan visa bagi warga negara tetangganya itu efektif mulai 1 Agustus 2022.

Kebijakan tersebut tercapai mana kala Menteri Luar Negeri China Wang Yi bertemu dengan pelaksana tugas menteri luar negeri pemerintahan sementara Afghanistan, Amir Khan Muttaqi, di sela-sela pertemuan tingkat menlu Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Tashkent, Uzbekistan, Jumat (29/7/2022).

Baca Juga

China ingin berbagi peluang pembangunan dengan Afghanistan, kata Wang sebagaimana dikutip dalam rilis Kementerian Luar Negeri China (MFA), Sabtu (30/7/2022).

Menlu merangkap anggota Dewan Negara China itu berharap pemerintahan yang inklusif segera terbentuk di Afghanistan dan melakukan berbagai upaya memerangi terorisme.

China juga mengusulkan program pembangunan Prakarsa Sabuk Jalan (BRI) dipadukan dengan program pembangunan strategis Afghanistan dan Koridor Ekonomi China-Pakistan yang mengarah ke Afghanistan.

Wang menyatakan bahwa China akan terus mendesak Amerika Serikat dan Barat untuk mencabut sanksi dan memenuhi tanggung jawab utamanya terhadap rekonstruksi ekonomi Afghanistan.

Muttaqi mengapresiasi bantuan China kepada negaranya, yang baru saja dilanda bencana gempa bumi. “Afghanistan akan menjaga prinsip satu China dan tidak akan mengizinkan wilayah teritorialnya dijadikan basis aktivitas kelompok-kelompok anti-China,” ujar Muttaqi.

Pemerintahan sementara Afghanistan berharap bisa terhubung dengan program pertanian China dan berharap dukungan penuh dari China dalam mendapatkan pengakuan internasional.

Afghanistan berbatasan langsung dengan Daerah Otonomi Xinjiang, wilayah barat daya China, yang dalam dekade sebelumnya mengalami serangkaian peristiwa mengarah pada separatisme. 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement