Saturday, 9 Jumadil Awwal 1444 / 03 December 2022

Guru di Ploso Keluhkan Digitalisasi yang Jadi Panggung Utama Budaya Asing

Jumat 29 Jul 2022 23:13 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Masyarakat hidup di era digital sangat erat kaitannya dengan teknologi internet yang menghubungkan antara orang satu dengan lainnya tak terbatas jarak, waktu, bahkan meliputi perbedaan tingkat ekonomi dan pendidikan. Tantangan budaya di era digital pun mengemuka dengan mengaburnya wawasan kebangsaan, menipisnya kesopanan dan kesantunan, kebebasan berekspresi yang kebablasan, serta pemahaman hak-hak digital yang masih kurang.

Masyarakat hidup di era digital sangat erat kaitannya dengan teknologi internet yang menghubungkan antara orang satu dengan lainnya tak terbatas jarak, waktu, bahkan meliputi perbedaan tingkat ekonomi dan pendidikan. Tantangan budaya di era digital pun mengemuka dengan mengaburnya wawasan kebangsaan, menipisnya kesopanan dan kesantunan, kebebasan berekspresi yang kebablasan, serta pemahaman hak-hak digital yang masih kurang.

Foto: ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/hp.
Webinar ungkap perlunya tingkatkan budaya bermedia digital sesuai dengan Pancasila

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masyarakat hidup di era digital sangat erat kaitannya dengan teknologi internet yang menghubungkan antara orang satu dengan lainnya tak terbatas jarak, waktu, bahkan meliputi perbedaan tingkat ekonomi dan pendidikan. Tantangan budaya di era digital pun mengemuka dengan mengaburnya wawasan kebangsaan, menipisnya kesopanan dan kesantunan, kebebasan berekspresi yang kebablasan, serta pemahaman hak-hak digital yang masih kurang.

"Ada juga permasalahan berkurangnya toleransi dan penghargaan pada perbedaan, pelanggaran hak cipta dan karya intelektual, serta hilangnya batas-batas privasi," ujar Guru SMAN Ploso Jombang, Hanifah Atmi saat webinar Makin Cakap Digital 2022 untuk kelompok komunitas dan masyarakat di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur pada Selasa (26/7/2022).

Digitalisasi saat ini juga justru menjadi panggung budaya bagi orang asing, di mana informasi begitu mudah masuk karena internet. Saat ini ada kebudayaan K-Pop dan drama dari Korea Selatan yang masuk dari sisi hiburan. Padahal budaya Indonesia tak kalah menarik dan kaya dari Sabang hingga Merauke.

Untuk itu perlu ditanamkan budaya bermedia digital yang berdasarkan pemahaman akan nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Di mana nilai Pancasila dijabarkan pada tiap silanya. Kemudian pengetahuan akan perlunya mencintai produk negeri sendiri dan kegiatan produktif lainnya. Sehingga globalisasi tidak memengaruhi bagaimana masyarakat tetap mencintai produk dalam negeri. Begitu juga dengan pemahaman nilai Pancasila yang akan membawa pada sikap toleransi dan menghargai perbedaan.

Merespons perkembangan Teknologi Informasi Komputer (TIK), Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi melakukan kolaborasi dan mencanangkan program Indonesia Makin Cakap Digital. Program ini didasarkan pada empat pilar utama literasi digital yakni Kemampuan Digital, Etika Digital, Budaya Digital, dan Keamanan Digital. Melalui program ini, 50 juta masyarakat ditargetkan akan mendapat literasi digital pada tahun 2024.

Webinar #MakinCakapDigital 2022 untuk kelompok komunitas dan masyarakat di wilayah Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi.

Kali ini hadir pembicara-pembicara yang ahli dibidangnya antara lain Ketua Komite Kampanye dan Publikasi Mafindo, Yuli Setiowati, Guru SMAN Ploso Jombang, Hanifah Atmi, dan Ketua Relawan TIK Jember, Erlina Dwi N. Untuk informasi lebih lanjut mengenai program Makin Cakap Digital hubungi info.literasidigital.id dan cari tahu lewat akun media sosial Siberkreasi.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA