Kamis 28 Jul 2022 18:42 WIB

MUI Jatim Putuskan Paylater Haram

Paylater ada unsur ziyadah atau tambahan yang disyaratkan di muka.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Ani Nursalikah
Belanja online (ilustrasi). MUI Jatim Putuskan Paylater Haram
Foto: republika
Belanja online (ilustrasi). MUI Jatim Putuskan Paylater Haram

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur memutuskan pembayaran menggunakan metode paylater haram. Keputusan tersebut berdasarkan Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI se-Jawa Timur yang digelar Rabu (27/7/2022).

Ketua Fatwa MUI Jatim, KH Ma'ruf Khozin menjelaskan paylater diputuskan haram karena mirip dengan berutang di leasing. Hanya saja, lanjut Khozin, di paylater langsung mencantumkan bunga sekitar dua persen, kemudian denda sekitar satu persen jika ada keterlambatan pembayaran.

Baca Juga

"Kalau seperti itu secara fiqih tidak dibenarkan," ujarnya dikonfirmasi Kamis (28/7/2022).

Namun demikian, Khozin memberikan pengecualian kepada paylater yang kurang dari satu bulan, kemudian tidak sampai kena bunga, menurutnya tidak masalah. Intinya, pinjam uang dengan nominal pembayaran yang lebih itu tidak boleh.

"Kalau kredit boleh, karena memang sudah dijelaskan di awal itu boleh. Ini kan faktornya beda antara paylater dengan sistem kredit," ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam metode pembayaran dengan paylater ada unsur ziyadah atau tambahan yang disyaratkan di muka oleh pihak penerbit paylater kepada konsumen. Sedangkan kredit harus memenuhi kesepakatan terlebih dahulu antara penjual dan pembeli untuk nominalnya. Kemudian baru dilakukan akad. 

"Para kiai memutuskan (paylater) tergolong sesuatu yang tidak diperbolehkan. Apalagi, di paylater itu akan ada debt collector, kemudian akan ada yang mengumumkan. Ini akan sama dengan pinjaman online yang kemudian bahaya di bagian belakangnya," kata Khozin.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement