Thursday, 14 Jumadil Awwal 1444 / 08 December 2022

Wamenkes: Vaksin Dosis Keempat Menunggu Rekomendasi ITAGI

Kamis 28 Jul 2022 13:23 WIB

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Agus raharjo

Pedagang pasar saat disuntikan vaksin COVID-19 di Cibinong Square, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (26/7/2021). Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono mengatakan 94 persen kematian akibat COVID-19 terjadi karena belum divaksin, vaksinasi sejatinya memberikan respon imun yang baik bagi tubuh manusia.

Pedagang pasar saat disuntikan vaksin COVID-19 di Cibinong Square, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (26/7/2021). Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono mengatakan 94 persen kematian akibat COVID-19 terjadi karena belum divaksin, vaksinasi sejatinya memberikan respon imun yang baik bagi tubuh manusia.

Foto: ANTARA/YULIUS SATRIA WIJAYA
Vaksin Merah Putih bisa menjadi salah satu pilihan sebagai vaksin dosis keempat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menuturkan, saat ini pihaknya masih menunggu rekomendasi dari Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) untuk mulai memberikan vaksin Covid-19 booster kedua atau dosis keempat. Vaksin dosis keempat terutama diperuntukkan kepada para tenaga kesehatan (nakes).

Pasalnya, sudah terdapat dua dokter meninggal dunia akibat Covid-19. "Secepatnya kita sedang melakukan komunikasi dengan ITAGI. Dengan nanti setelah dikeluarkan rekomendasi dari ITAGI baru akan dilakukan booster tersebut secara maksimal, secara cepat," kata Dante di Jakarta, Kamis (28/7/2022).

Baca Juga

"Jadi nakes merupakan garda terdepan dalam pelayanan kesehatan terutama pada masa Covid ini. Kita tahu sudah ada 2 dokter yang meninggal akibat pandemi Covid yang berkembang dengan varian yang ada sekarang," sambung Dante.

Dante mengatakan, nantinya tentu akan ada mekanisme uji klinis terlebih dahulu. Ia pun berharap vaksin Merah Putih bisa menjadi salah satu pilihan untuk digunakan sebagai vaksin dosis keempat. "Kalau memang clinical trial vaksin Merah Putih itu sudah masuk dalam clinical trial tahap booster maka tentu bisa digunakan. Tetapi yang paling penting adalah clinical trial vaksin merah putih itu," ujar Dante.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pertimbangan pemberian vaksin Covid-19 dosis empat di Indonesia diperuntukan bagi tenaga kesehatan (nakes)

"Kita memang sekarang sudah mempelajari vaksinasi booster kedua (dosis empat) untuk nakes, karena ada beberapa nakes kita yang kena (tertular Covid-19)," kata Budi Gunadi Sadikin usai peluncuran Platform Tunggal SatuSehat di Hotel Raffles Jakarta, Selasa.

Budi mengatakan pertimbangan tersebut telah memasuki tahap final, dan dalam waktu dekat segera diumumkan kepada masyarakat. Implementasi dosis empat bagi kalangan nakes di Indonesia saat ini masih menunggu arahan Presiden RI Joko Widodo.

"Mudah-mudahan dalam waktu dekat, kami akan bisa informasikan ke masyarakat. Nanti kalau Bapak Presiden kembali kami laporkan, kalau dia setuju, langsung kita lakukan," ujarnya.

Budi mengatakan orang yang belum divaksin lebih berisiko 30 kali lipat dirawat di rumah sakit saat terjangkit Covid-19 dibanding orang yang sudah menerima booster. "Orang yang divaksin sekali itu sekitar 20 kali lipat risiko masuk rumah sakit. Orang yang divaksin dua kali, dia 10 kali lipat dari yang sudah booster. Jadi kalau menurut saya, kenapa sih enggak ambil booster, karena kan sudah gratis," ujarnya.

Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman mengatakan dosis keempat bagi kelompok berisiko merupakan langkah yang tepat. "Kelompok berisiko tinggi misalnya karena komorbid atau lansia, bahkan beberapa penyandang disabilitas," katanya.

Selain itu, kata Dicky, dosis keempat juga penting untuk melindungi para pekerja yang berhubungan dengan masyarakat, khususnya pasien, seperti tenaga kesehatan. "Bukan hanya dokter, perawat, dan penunjangnya, termasuk juga sopir ambulan," katanya.

Menurut Dicky kalangan guru dan petugas di pintu masuk negara seperti petugas bea cukai dan pengamanan bandara serta pelabuhan juga termasuk dalam kelompok berisiko. "Juga dari sisi kondisi yang selama ini termarjinalkan karena kondisi sosial ekonomi. Itu yang harus juga diutamakan," katanya.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA