Rabu 27 Jul 2022 14:23 WIB

Bukan Gara-Gara Aphelion, Ini Penjelasan Suhu Dingin Menurut BMKG

Beberapa daerah mengalami penurunan suhu yang drastis.

Rep: Amri Amrullah/ Red: Dwi Murdaningsih
Embun Beku yang berada di kawasan Candi Dieng.
Foto: Dok. UPTD Dieng
Embun Beku yang berada di kawasan Candi Dieng.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan hoaks informasi yang viral via media sosial soal fenomena Albelian atau Alphelion, yang menyebut suhu di Indonesia akan menjadi lebih dingin pada Agustus mendatang. Ia berharap masyarakat tidak percaya dan menyebarkan begitu saja informasi yang tidak benar itu ke media sosial.

 

Baca Juga

Deputi Bidang Meteorologi, Mulyono R. Prabowo menjelaskan informasi hoaks atau salah terkait cuaca dan meteorologi seperti itu sudah sering viral di media sosial, dan menimbulkan keresahan di masyarakat. Karena itu ia berharap masyarakat tidak langsung percaya dengan kabar tersebut.

 

"Iya… berita seperti ini sudah beberapa kali beredar.. dan berita tidak benar," kata Mulyono kepada wartawan, Rabu (27/7/2022).

 

Ia menjelaskan secara sederhana kawasan di Indonesia hanya terdapat dua musim, musim penghujan dan musim kemarau. Ketika Bumi beredar mengelilingi matahari dengan lintasan edar berbentuk elips dengan elipsitas 0,0167 dan matahari ada di posisi salah satu titik fokus lintasan elips tersebut.

 

Sehingga pada satu saat tertentu, tanggal 4 Januari, bumi pada jarak terdekat dengan matahari, yang disebut pada posisi perihelion yang berjarak terdekatnya dengan Matahari sekitar 147 juta Km. Pada satu saat tertentu yang lain, tanggal 4 Juli, bumi berada pada jarak paling jauh dengan matahari, yang disebut aphelion yang berjarak terjauh dengan matahari sekitar 152 juta Km.

 

"Pada saat terjadi fenomena aphelion, pada umumnya Indonesia (bagian barat dan selatan) sedang mengalami musim kemarau," terangnya.

 

Pada kondisi kemarau, potensi pembentukan awan yang menghalangi pancaran radiasi matahari relatif berkurang. Sehingga pada siang hari radiasi matahari relatif berlimpah yang menghangatkan permukaan bumi dan pada malam hari (permukaan) bumi berfungsi sebaliknya sebagai sumber panas.

 

Kondisi reradiasi bumi pada malam hari ini dapat menyebabkan suhu udara menjadi turun secara drastis. Pada daerah-daerah tertentu (umumnya di dataran tinggi) penurunan drastis suhu udara pada malam hari ini dikenal sebagai masa “bediding”.

 

"Penurunan suhu udara yang drastis ini (di puncak dataran tinggi) bahkan sampai dapat menimbulkan munculnya embun beku (frost)," jelasnya.

 

Dengan demikian bukan berarti semua wilayah Indonesia akan mengalami cuaca yang lebih dingin.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement