Tuesday, 1 Rabiul Awwal 1444 / 27 September 2022

IDI Minta Semua Dokter Waspadai Gejala Cacar Monyet pada Pasien

Rabu 27 Jul 2022 09:53 WIB

Rep: Dian Fath/ Red: Friska Yolandha

Gambar mikroskop elektron tahun 2003 yang disediakan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit ini menunjukkan virion monkeypox dewasa berbentuk oval, kiri, dan virion dewasa bulat, kanan, yang diperoleh dari sampel kulit manusia yang terkait dengan wabah anjing padang rumput 2003.

Gambar mikroskop elektron tahun 2003 yang disediakan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit ini menunjukkan virion monkeypox dewasa berbentuk oval, kiri, dan virion dewasa bulat, kanan, yang diperoleh dari sampel kulit manusia yang terkait dengan wabah anjing padang rumput 2003.

Foto: CDC
Cacar monyet merupakan penyakit infeksi virus, bersifat zoonosis dan jarang terjadi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Cacar monyet kini tengah mendapatkan perhatian dan menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Pasalnya, WHO telah menetapkan wabah cacar monyet sebagai keadaan darurat kesehatan global.

Meski masih belum terdeteksi di Indonesia, namun kasus cacar monyet atau monkeypox sudah ditemukan di Singapura. Ketua Bidang Kajian Penanggulangan Penyakit Menular PB IDI, Dr Agus Dwi Susanto, mengatakan, pemahaman yang baik terhadap infeksi cacar monyet dan kewaspadaan dini terhadap kejadian luar biasa atau outbreak, menjadi modal utama dalam aspek pencegahan.

Baca Juga

Upaya untuk menghindari kontak dengan pasien yang diduga terinfeksi merupakan kunci pencegahan yang dinilai paling efektif pada saat outbreak, diiringi dengan upaya surveilans dan deteksi dini kasus aktif guna melakukan karantina untuk mencegah penyebaran yang lebih luas. Ia pun mengimbau para tenaga kesehatan agar mewaspadai gejala cacar monyet pada pasien.

"Kepada para tenaga Kesehatan baik dokter maupun perawat yang menemukan gejala cacar monyet pada pasien agar segera melakukan tindak lanjut dengan tes PCR (Polymerase Chain Reaction) yakni metode pemeriksaan virus cacar monyet dengan mendeteksi DNA virus tersebut, dan segera melaporkan ke Dinas Kesehatan setempat agar bisa segera dilakukan surveilans dan Tindakan lebih lanjut lainnya," kata Agus dalam keterangan, Rabu (27/7/2022).

Cacar monyet merupakan penyakit infeksi virus, bersifat zoonosis dan jarang terjadi. Beberapa kasus infeksi pada manusia (human monkeypox) yang pernah dilaporkan terjadi secara sporadis di Afrika Tengah dan Afrika Barat, dan umumnya pada lokasi yang berdekatan dengan daerah hutan hujan tropis.

Penyakit cacar monyet ini tergolong ke dalam genus orthopoxvirus. Virus lain yang juga berasal dari genus orthopoxvirus adalah virus variola yang menyebabkan penyakit cacar (Smallpox) dan telah dinyatakan tereradikasi di seluruh dunia oleh WHO pada tahun 1980.

Berdasarkan data dari WHO, monkeypox pada awalnya teridentifikasi pada tahun 1970 di Zaire dan sejak itu dilaporkan secara sporadis di 10 negara di Afrika Tengah dan Barat. Pada tahun 2017, Nigeria mengalami outbreak terbesar yang pernah dilaporkan, dengan perkiraan jumlah kasus yang terkonfirmasi sekitar 40 kasus.

Sejak Mei 2022, monkeypox menjadi penyakit yang menjadi perhatian kesehatan masyarakat global, karena dilaporkan dari negara non endemis. Sejak tanggal 13 Mei 2022, WHO telah menerima laporan kasus-kasus monkeypox yang berasal dari negara nonendemis, dan saat ini telah meluas secara global dengan total 75 negara.

Hingga 25 Juli 2022 terdapat 18.905 kasus konfirmasi monkeypox di seluruh dunia, dengan 17.852 kasus terjadi di negara tanpa riwayat kasus konfirmasi sebelumnya. Amerika Serikat melaporkan kasus monkeypox sebesar 3846 kasus. Di ASEAN, Singapura telah melaporkan 9 kasus konfirmasi dan Thailand melaporkan 1 kasus konfirmasi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA