Sunday, 10 Jumadil Awwal 1444 / 04 December 2022

Rishi Sunak Klaim Sebagai Underdog di Bursa PM Inggris

Senin 25 Jul 2022 02:51 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Friska Yolandha

Kepala Keuangan Inggris Rishi Sunak berbicara pada peluncuran kampanyenya untuk menjadi pemimpin Partai Konservatif dan Perdana Menteri, di Queen Elizabeth II Centre di London, Selasa 12 Juli 2022.

Kepala Keuangan Inggris Rishi Sunak berbicara pada peluncuran kampanyenya untuk menjadi pemimpin Partai Konservatif dan Perdana Menteri, di Queen Elizabeth II Centre di London, Selasa 12 Juli 2022.

Foto: AP/Stefan Rousseau
Fokus kampanye Sunak terletak pada janji untuk memotong pajak

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Mantan Menteri Keuangan Inggris, Rishi Sunak, menggambarkan dirinya sebagai sosok underdog dalam perebutan kursi Perdana Menteri Inggris berikutnya. Padahal, pengunduran diri Sunak memicu pemberontakan hingga membuat Perdana Menteri Boris Johnson mundur setelah serangkaian skandal. 

Partai Konservatif selaku partai berkuasa akan segera memilih pengganti Boris. Sunak memimpin semua putaran pemungutan suara di antara anggota parlemen partai untuk mengurangi peta pertarungan menjadi dua kandidat.

Baca Juga

Tetapi sekretaris luar negeri Liz Truss lah yang tampaknya telah memperoleh keuntungan sejauh ini di antara 200 ribu anggota partai yang memerintah. Truss memimpin 24 poin atas Sunak dalam jajak pendapat YouGov tentang anggota Partai Konservatif yang diterbitkan pada Kamis lalu. 

"Jangan ragu, saya memang menjadi underdog (tidak diunggulkan)," kata Sunak dalam pidatonya di kota Grantham yang merupakan tempat kelahiran Margaret Thatcher dilansir dari Reuters pada Ahad (24/7/2022).  

Truss berpeluang menjadi perdana menteri wanita ketiga Inggris setelah Thatcher dan Theresa May. Sedangkan Sunak berpotensi menjadi Perdana Menteri Inggris pertama yang berasal dari India. 

Sejauh ini fokus kampanye Sunak terletak pada janji untuk memotong pajak pada saat banyak orang berjuang, dan anggaran pertahanan serta kebijakan energi. Dalam pidatonya, Sunak memaparkan apa yang disebutnya "akal sehat Thatcherisme". 

photo
Menteri Luar Negeri Inggris untuk Urusan Luar Negeri, Persemakmuran dan Pembangunan, Liz Truss, tiba untuk rapat kabinet di 10 Downing Street di London, Selasa, 19 Juli 2022. - (AP/Frank Augstein)
Sunak menjanjikan pengelolaan ekonomi yang cermat sebelum pemotongan pajak. Sunak mempertanyakan moralitas pemotongan pajak langsung yang diusulkan oleh Truss saat inflasi melonjak. 

Truss memang dikritik melontarkan janji yang sewenang-wenang untuk meningkatkan pengeluaran pertahanan hingga 3 persen dari PDB pada tahun 2030. Truss mengatakan pemotongan pajak diperlukan untuk merangsang pertumbuhan. 

"Adalah salah untuk mengambil uang dari orang-orang yang tidak perlu kita ambil ketika orang-orang di seluruh negeri berjuang dengan biaya krisis hidup," ujar Sunak. 

Sebelumnya, dalam sebuah wawancara untuk surat kabar Saturday's Times, Sunak akan menempatkan pemerintah pada pijakan krisis ketika mengambil alih jabatan Perdana Menteri. Adapun Truss juga berjanji untuk membatalkan semua undang-undang Uni Eropa yang masih berlaku di Inggris pada tahun 2023. Rizky Suryarandika

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA