Monday, 7 Rabiul Awwal 1444 / 03 October 2022

Cakupan Vaksinasi PMK Jatim Capai 99 Persen

Jumat 22 Jul 2022 17:37 WIB

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Petugas pusat kesehatan hewan (Puskeswan) menyuntikkan vaksin penyakit mulut dan kuku (PMK) ke hewan ternak sapi di Desa Siwalan, Gresik, Jawa Timur. Capaian vaksinasi penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sapi di Jawa Timur sudah mencapai 99 persen, dimana sudah 380.000 lebih dosis vaksin yang disuntikkan dalam 30 hari. Koordinator Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan PMK Prof Wiku Adisasmito menyatakan, saat ini Jatim kembali mendapatkan lagi 600.000 dosis vaksin PMK.

Petugas pusat kesehatan hewan (Puskeswan) menyuntikkan vaksin penyakit mulut dan kuku (PMK) ke hewan ternak sapi di Desa Siwalan, Gresik, Jawa Timur. Capaian vaksinasi penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sapi di Jawa Timur sudah mencapai 99 persen, dimana sudah 380.000 lebih dosis vaksin yang disuntikkan dalam 30 hari. Koordinator Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan PMK Prof Wiku Adisasmito menyatakan, saat ini Jatim kembali mendapatkan lagi 600.000 dosis vaksin PMK.

Foto: ANTARA/Rizal Hanafi
Satgas Penanganan PMK menyebut Jatim kembali terima 600 ribu dosis vaksin

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Capaian vaksinasi penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sapi di Jawa Timur sudah mencapai 99 persen, dimana sudah 380.000 lebih dosis vaksin yang disuntikkan dalam 30 hari. Koordinator Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan PMK Prof Wiku Adisasmito menyatakan, saat ini Jatim kembali mendapatkan lagi 600.000 dosis vaksin PMK.

“Harapannya 1,5 hingga 2 bulan vaksin ini bisa disuntikkan untuk dosis kedua terutama dosis pertama bagi yang belum,” kata Wiku di Surabaya, Jumat (22/7/2022).

Wiku menjelaskan, pihaknya juga telah menggelar rapat terbatas untuk memastikan bahwa Satgas penanganan PMK dan progresnya di Jawa Timur berjalan dengan baik. Wiku pun mengingatkan masyarakat maupun peternak dapat memberlakukan pelaksanaan by security di peternakan.

“Pelaksanaan bio security ini bisa dilakukan peternak kecil hingga skala lebih luas agar virus PMK yang menjangkiti ternak tidak dapat berpindah tempat melalui transmisi yang dibawa orang saat di peternakan. Sehingga blantik ataupun peternaknya harus membersihkan diri khususnya alas kaki saat masuk atau keluar setelah berinteraksi dengan hewan ternaknya,” ujarnya.

Wiku meminta pihak-pihak yang biasa berinteraksi dengan peternak, menyadarkan peternak bahwa permasalahan PMK ini serius. Menurutnya pelaksanaan bio security harus dipahami oleh semua orang khususnya peternak, agar pemerintah pusat bersama pemerintah daerah dapat lebih baik menangani wabah PMK di Jatim.

“Jangan keluar masuk peternakan tanpa menjalankan bio security yang baik. Karena jika tidak disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan maka PMK yang melandai saat ini tak menutup kemungkinan bisa meningkat kembali. Penyebaran pada prinsipnya sudah mulai menurun terkendali tapi tetap harus waspada selalu menerapkan bio security,” kata Wiku.

Terkait vaksinasi ternak, Wiku menerangkan pemerintah pusat saat ini masih mendatangkan vaksin dari luar negeri. Ia memastikan dalam waktu dekat vaksin PMK akan digantikan dengan produksi dalam negeri baik yang dibuat oleh Pusvetma ataupun industri veteriner untuk menyuplainya.

“Karena sampai sekarang cakupan vaksin tercatat mencapai 3 juta dan pemerintah pusat menyoroti Jatim karena sebagai lumbung ternak yang besar sehingga akan dipastikan pencapaian vaksinasinya tinggi dan juga mendorong daerah lain yang terdampak PMK untuk mempercepat vaksin pada ternak,” ujarnya.

Kepala Pusvetma Jatim Edy Budi Susila menerangkan proses pembuatan vaksin PMK dalam negeri saat ini dalam tahap purifikasi. Ia berharap akhir Agustus atau awal September sudah launching untuk batch pertama sekitar 200 ribu dosis. Hingga akhir tahun 2022, Pusvetma optimis bisa membuat 1 juta dosis vaksin.

“Kalau sampai Desember kita targetkan 1 juta dosis. Saat ini masuk tahap prototype, setelah selesai nanti ada proses control untuk quality-nya. Kalau prototype sudah diuji akan kita buat massal,” kata dia.

Edy menambahkan setelah Pusvetma bisa memproduksi 1 juta dosis, nantinya akan ada rencana untuk pengembangan kerja sama dengan perusahaan swasta. Untuk efektivitas vaksin PMK buatan dalam negeri ini diakuinya di atas 80 persen.

“Karena ini produk dalam negeri masih dalam pengembangan kita bisa peluang kerja sama tapi yang bisa kita laksanakan sampai akhir Desember ya 1 juta dosis. Untuk peningkatannya, kerja samanya dengan produsen vaksin lokal swasta sesuai dengan progres pengendalian PMK ini," kata dia.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA