Monday, 4 Jumadil Awwal 1444 / 28 November 2022

Presiden Iran: AS Rampas Jalan Warga Suriah ke Kehidupan Normal

Rabu 20 Jul 2022 19:50 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Esthi Maharani

Presiden Rusia Vladimir Putin, kiri, Presiden Iran Ebrahim Raisi, tengah, dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berfoto sebelum pembicaraan mereka di istana Saadabad, di Teheran, Iran, Iran, Selasa, 19 Juli 2022.

Presiden Rusia Vladimir Putin, kiri, Presiden Iran Ebrahim Raisi, tengah, dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berfoto sebelum pembicaraan mereka di istana Saadabad, di Teheran, Iran, Iran, Selasa, 19 Juli 2022.

Foto: Sergei Savostyanov Sputnik Kremlin via AP
Satu-satunya solusi untuk krisis Suriah adalah tanpa campur tangan asing

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Iran, Turki,dan Rusia menegaskan kembali komitmen untuk bekerja menuju solusi politik dan diplomatik untuk krisis Suriah. Presiden Iran Ebrahim Raisi mengatakan pada Selasa (19/7/2022), satu-satunya solusi untuk krisis Suriah adalah solusi politik tanpa campur tangan asing.

"Kebutuhan untuk menjaga integritas teritorial dan kohesi (dan) menghormati kedaulatan nasional dan kemerdekaan Suriah, menentukan nasib negara melalui dialog Suriah-Suriah dan tanpa campur tangan asing," kata Raisi dikutip dari Anadolu Agency.

Dalam pertemuan puncak ketujuh negara-negara penjamin Astana Process Suriah di Teheran,  Raisi mengatakan, sanksi Amerika Serikat (AS) telah memberikan tekanan tambahan pada rakyat Suriah. "Merampas jalan mereka untuk menjalani kehidupan normal," katanya menyerukan diakhirinya campur tangan asing di negara itu.

Raisi percaya, Suriah yang bersatu dan merdeka tanpa kehadiran asing akan memulihkan perdamaian di wilayah itu dan berkontribusi pada stabilitas dan keamanan tetangganya. Dia menyebut kehadiran pasukan AS di Suriah dan kawasan itu sebagai faktor destabilisasi.

Tuan rumah pertemuan Astana Process menggambarkan integritas dan kedaulatan teritorial Suriah sebagai garis merah yang menghubungkan ketidakstabilan di negara itu dengan kehadiran AS.  Raisi menuduh AS menjarah sumber daya alam Suriah, termasuk minyak.

 

Raisi memuji aliansi itu sebagai kerangka kerja yang berhasil untuk penyelesaian damai krisis Suriah. Dia dengan tegas menyatakan, upaya yang dilakukan telah membuat prestasi yang baik.

Menurut Raisi, 11 tahun telah berlalu sejak perang di Suriah dimulai, negaranya masih percaya bahwa satu-satunya solusi adalah politik dan bukan militer. Menurutnya, negara-negara penjamin Astana Process selalu mendukung solusi politik untuk krisis dalam kerangka kesepakatan yang dicapai, termasuk mengadakan negosiasi konstitusional Suriah. Upaya ini sambil menegaskan kembali komitmen untuk memerangi terorisme di seluruh wilayah, termasuk Suriah.

Raisi menyerukan untuk mengakhiri kehadiran kelompok teroris di Suriah. Dia pun mengutuk serangan Israel di negara yang dilanda perang, terutama pada infrastruktur sipil seperti bandara dan pelabuhan.

Iran pun menegaskan kembali dukungan kepada rakyat dan pemerintah Suriah dengan kekuatan penuh. Raisi menyoroti masalah pengungsi Suriah dan pengungsi domestik yang dinilai sebagai masalah penting.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA