Tuesday, 16 Rajab 1444 / 07 February 2023

Muhammadiyah: Pemerintah Harus Tindak Mafia Cabai dan Bawang Merah 

Kamis 14 Jul 2022 22:21 WIB

Rep: Haura Hafizhah/ Red: Nashih Nashrullah

Ketua PP Muhammadiiyah, Buya Anwar Abbas, menilai ulah mafia cabai dan bawang merah rugikan masyarakat

Ketua PP Muhammadiiyah, Buya Anwar Abbas, menilai ulah mafia cabai dan bawang merah rugikan masyarakat

Foto: Republika TV/Mauhammad Rizki Triyana
Muhammadiiyah menilai ulah mafia cabai dan bawang merah rugikan masyarakat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas menanggapi terkait harga cabai dan bawang merah yang tidak kunjung turun.

Menurutnya, hal ini sudah sangat membebani dan mengganggu kesejahteraan dunia usaha tertentu dan masyarakat luas.  

Baca Juga

"Pemerintah harus turun dengan  menindak para mafia dan para spekulan cabai dan bawang merah yang sudah mempermainkan harga serta  merugikan rakyat banyak tersebut. Terutama untuk membela mereka-mereka yang berada di lapisan bawah agar harga kebutuhan dapur tersebut bisa kembali stabil," katanya kepada Republika.co.id, Kamis (14/7/2022).

Kemudian, dia melanjutkan dampak dari hal ini usaha para pedagang makanan benar-benar terpukul.

Untuk mensiasati bagaimana  usahanya tetap dapat berjalan sebagian mereka terpaksa melakukan berbagai cara agar tetap bisa berjualan apakah itu dengan cara mengurangi takaran bumbu-bumbuan, mengganti lauknya dengan yang lain atau mengurangi tingkat keuntungan  mereka bagi menjaga agar kualitas rasa makanan yang mereka jual tetap dapat mereka pertahankan. 

"Pemerintah harus segera kembalikan harga cabai dan bawang merah seperti sedia kala. Supaya  kesejahteraan rakyat banyak terutama mereka-mereka yang termarginalkan serta  terpojokkan akibat dari kenaikan harga ini tetap dapat terjaga dan terpelihara," ujar dia. 

Sebenarnya, secara makro ekonomi dengan  adanya kenaikan harga komoditas kebutuhan dapur tersebut tidak bermasalah, asal kemampuan dan daya beli masyarakat masih tinggi karena hal demikian jelas akan bisa meningkatkan pendapatan dari para petani.  

Tetapi pada kenyataannya para pembeli yang biasanya memesan bawang merah dalam jumlah besar untuk mendukung  usahanya atau mereka membeli hanya 1 kilogram untuk persediaan di rumahnya,  kini tampak telah mengurangi pembeliannya menjadi separuhnya saja. 

"Karena harga bawang merah yang tadinya hanya Rp 25 ribu atau Rp 30 ribu  per kilogram sekarang di beberapa tempat ada yang sudah tembus menjadi Rp 65 ribu dan Rp 70 ribu per kilogram," kata dia. 

Hal ini tentu tidak boleh dibiarkan.  Permainan harga dari mafia cabai dan bawang merah harus dihentikan. "Dampak ini kan langsung ke masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari sehingga pemerintah harus selesaikan hal ini," ujar dia. 

Sebelumnya diketahui, Pedagang mengeluhkan harga cabai rawit dan bawang merah yang masih tinggi di pasaran.

Diyah (42 tahun) salah satunya. Perempuan yang berjualan nasi di Jalan Gayung Kebonsari Timur, Gayungan, Surabaya tersebut mengungkapkan, saat ini harga bawang merah tembus Rp 65 ribu per kilogram. Padahal normalnya di kisaran Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu per kilogram. 

Diyah mengaku tidak bisa berbuat banyak menyikapi tingginya harga berbagai kebutuhan pokok tersebut. Hal itu mengingat dia tidak bisa mengurangi takaran bumbu karena dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap rasa masakan yang dijualnya. Dia hanya bisa pasrah mengkipun keuntungan yang dikantongi lebih sedikit dibanding biasanya. 

"Ya gimana lagi. Kalau ngurangi bawang atau cabai kan nantinya kurang sedep (enak) masakannya. Mau nggak mau tetep jualan walupun untungnya lebih sedikit," ujarnya kepada Republika.co.id, Rabu (13/7/2022).      

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA