Kamis 14 Jul 2022 06:48 WIB

PKL Kecipratan Rezeki Akibat Fenomena Citayam Fashion Week

Para PKL mengakui ikut kecipratan rezeki dengan adanya fenomena Citayam Fashion Week.

Rep: Amri Amrullah/ Red: Bilal Ramadhan
Remaja asal Citayam yang viral, Bonge (kiri) saat membuat konten di kawasan Sudirman, Jakarta. Para PKL mengakui ikut kecipratan rezeki dengan adanya fenomena Citayam Fashion Week.
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Remaja asal Citayam yang viral, Bonge (kiri) saat membuat konten di kawasan Sudirman, Jakarta. Para PKL mengakui ikut kecipratan rezeki dengan adanya fenomena Citayam Fashion Week.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bagi sebagian kalangan fenomena subkultur Citayam Fashion Week atau para remaja dari pinggiran Jakarta yang kongkow di kawasan Jalan Sudirman-Thamrin, cukup mengganggu. Namun bagi pedagang kaki lima (PKL), seperti penjual kopi Starbak keliling (Starling) dan penjual rokok eceran, para remaja ini cukup membantu melarikan dagangan mereka.

Upaya mereka eksis di media sosial selama di kawasan sentra bisnis Jakarta itu, setidaknya berdampak positif bagi dagangan pelaku UMKM. Hal ini diakui Jeri (23 tahun), penjual Kopi keliling Straling yang biasa bersepeda di antara kawasan Monas hingga Dukuh Atas.

Baca Juga

Menurut dia, hampir setiap para remaja ini berkumpul selalu mencari minuman keliling yang biasa ia dan Starling lain jajakan di kawasan Bundaran HI itu. "Alhamdulillah mas, kalau ada mereka, kita juga lumayan terbantu lariskan dagangan," kata Jeri, Rabu (13/7/2022).

Jeri mengaku, ia tidak selalu hadir saat para pemuda ini nongkrong di kawasan sekitar terowongan Kendal. Namun ia ikut merasakan beberapa kali jualan minuman sasetannya diminati para remaja ini.

"Beberapa kali saya jual di sini (pas mereka berkumpul), sehari bisa hampir 100 gelas mas," ujar dia.

Uang Rp 350 ribu hingga Rp 500 ribu sehari pun bisa ia bawa pulang, bila para remaja ini berkumpul bersama di kawasan Sudirman-Thamrin. Menurut Jeri, kehadiran mereka cukup membawa berkah, khususnya bagi pedagang minuman keliling, yang selama beberapa bulan sebelumnya dagangan mereka cukup sepi, karena pandemi.

Mendengar kehadiran para remaja ini mendapat cemoohan dan penertiban oleh aparat, Jeri menilai ada baiknya mereka tidak dilarang. Karena ia mengaku, penjual minuman keliling lain ikut merasakan adanya rezeki tambahan dari kehadiran para remaja ini.

"Ya baiknya mereka dibina lah, jangan dilarang," ujar dia.

Hal yang sama dirasakan Pak Warno, penjual rokok eceran di belakang Stasiun Sudirman. Ia mengaku rokok ecerannya banyak dibeli sejak banyak remaja dan pemuda dari pinggiran Jakarta yang nongkrong di kawasan Sudirman.

Ia yang juga biasa menjual rokok ecerannya di kawasan Bundaran HI, merasa fenomena Remaja Citayam Fashion Week adalah hal yang wajar. "Namanya anak muda, biarin saja mereka nongkrong di sini. Yang penting nggak mencuri dan melanggar ketertiban," ujar Warno.

Ia mengaku tidak masalah dengan kehadiran para remaja ini. Walaupun usia mereka masih remaja, Pak Warno mengaku mereka banyak yang merokok. Dan itu cukup membantunya melariskan dagangan rokok ecerannya.

"Kalau saya nggak masalah. Yang penting jangan ganggu orang lain," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement