Friday, 5 Rajab 1444 / 27 January 2023

Ketiga Kalinya Sri Lanka Tetapkan Keadaan Darurat 

Rabu 13 Jul 2022 21:15 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Dwi Murdaningsih

 Polisi menggunakan gas air mata saat pengunjuk rasa Sri Lanka menyerbu kompleks kantor perdana menteri Ranil Wickremesinghe, menuntut dia mengundurkan diri setelah presiden Gotabaya Rajapaksa melarikan diri di tengah krisis ekonomi di Kolombo, Sri Lanka, Rabu, 13 Juli 2022.

Polisi menggunakan gas air mata saat pengunjuk rasa Sri Lanka menyerbu kompleks kantor perdana menteri Ranil Wickremesinghe, menuntut dia mengundurkan diri setelah presiden Gotabaya Rajapaksa melarikan diri di tengah krisis ekonomi di Kolombo, Sri Lanka, Rabu, 13 Juli 2022.

Foto: AP/Rafiq Maqbool
Sri Lanka memberlakukan jam malam di provinsi barat.

REPUBLIKA.CO.ID, KOLOMBO - Penjabat presiden Sri Lanka Ranil Wickremesinghe mengumumkan keadaan darurat dan memberlakukan jam malam di provinsi barat, Rabu (13/7/2022). Keadaan darurat ditetapkan ketika protes meluas di beberapa wilayah setelah Presiden Gotabaya Rajapaksa melarikan diri dari negara pulau yang dilanda krisis.

"Ranil Wickremesinghe, dalam kapasitasnya sebagai penjabat presiden, telah mengumumkan keadaan darurat dan memberlakukan jam malam di provinsi barat," kata Sekretaris Pers Kantor perdana menteri Dinouk Colombage, Rabu.

Baca Juga

Ini adalah ketiga kalinya keadaan darurat diberlakukan di negara itu. Keadaan darurat negara diberlakukan setelah Rajapaksa memegang kekuasaan pada Mei di tengah protes di seluruh negeri karena krisis ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya yang mengakibatkan kekurangan bahan bakar, kerawanan pangan, dan inflasi yang meroket.

Pada Rabu, Presiden Gotabaya Rajapaksa terbang keluar dari Sri Lanka ke Maladewa ketika negara itu terperosok dalam krisis ekonomi dan politik yang mendalam. Dia melarikan diri pada hari dia dijadwalkan untuk menyerahkan pengunduran dirinya dari jabatan perdana menteri dan memberi jalan bagi pemerintahan semua partai.

Rajapaksa (73 tahun) ditemani oleh istri dan dua pengawalnya saat dia terbang ke negara tetangga Maladewa. Setelah berita penerbangan presiden menyebar, ribuan orang berkumpul di lokasi protes utama di Kolombo meneriakkan "Gota pencuri, Gota pencuri", merujuk padanya dengan julukan.

Ratusan pengunjuk rasa lainnya menyerbu kantor perdana menteri, menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe. Polisi dan angkatan bersenjata terpaksa menggunakan kekuatan dan peluru gas air mata untuk membubarkan pengunjuk rasa yang berkumpul.

Sumber dan pejabat pemerintah mengatakan saudara-saudara presiden, mantan perdana menteri Mahinda Rajapaksa dan an mantan menteri keuangan Basil Rajapaksa, masih berada di Sri Lanka. Para pemimpin protes mengatakan perdana menteri bersekutu dengan Rajapaksa dan telah memperingatkan pertarungan yang menentukan jika dia tidak mengundurkan diri pada Rabu sore.

"Jika kita tidak mendengar pengunduran diri presiden dan perdana menteri pada malam hari, kita mungkin harus berkumpul kembali dan mengambil alih parlemen atau gedung pemerintah lainnya," kata Buddhi Prabodha Karunaratne, salah satu penyelenggara protes baru-baru ini.

"Kami sangat menentang pemerintah Gota-Ranil. Keduanya harus pergi," ujarnya menambahkan.

Di tengah kekacauan ekonomi dan politik, harga obligasi negara Sri Lanka mencapai rekor terendah baru pada Rabu. Kedutaan Besar AS di Kolombo, yang berada di distrik pusat kota, mengatakan pihaknya membatalkan layanan konsuler untuk sore dan Kamis sebagai tindakan pencegahan.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA