Saturday, 15 Muharram 1444 / 13 August 2022

Di Balik Kecerdasan Imam Al Juwaini, Ada Sosok Ayah yang Wara atau Berhati-Hati

Selasa 12 Jul 2022 23:30 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Ilustrasi Imam Al Juwaini . Imam Al Juwaini dikenal sebagai sosok yang jenius dalam berdebat

Ilustrasi Imam Al Juwaini . Imam Al Juwaini dikenal sebagai sosok yang jenius dalam berdebat

Foto: republika
Imam Al Juwaini dikenal sebagai sosok yang jenius dalam berdebat

Oleh : Ustadz Yendri Junaidi Lc MA, dosen STIT Diniyyah Puteri Padang Panjang, alumni Al-Azhar Mesir

REPUBLIKA.CO.ID, - Abu Muhammad Al Juwaini adalah seorang alim dan faqih bermazhab Syafi terkemuka di masanya. Ia berkeinginan memiliki seorang anak yang ia harapkan menjadi seorang alim. 

Untuk tujuan itu, ia membeli seorang budak wanita yang telah dipilihnya sedemikian rupa berdasarkan kesalehan dan ketakwaannya. 

Baca Juga

Setelah dibeli, ia berpesan pada sang budak, "Aku punya satu syarat. Jangan engkau makan apapun kecuali dari nafkah yang aku berikan. Insya Allah nafkah yang aku berikan datang dari sumber yang halal." Sang budak pun menyanggupinya. 

Setelah melahirkan, Abu Muhammad kembali berpesan padanya, "Jangan engkau biarkan apapun masuk ke dalam tubuh anak ini kecuali dari nafkah yang aku berikan. Jangan biarkan ia menyusu selain darimu saja."  

Suatu hari, sang budak pulang dan berkata pada sang Imam, "Tadi, entah mengapa, anak kita ini tidak mau menyusu padaku. Melihatku panik, seorang sahabatku datang membantu dan menyusukan anak ini."   

Imam Abu Muhammad kaget mendengar itu. Ia segera mengorek-ngorek mulut anaknya agar ia memuntahkan kembali susu yang telah masuk ke dalam tubuhnya. Anaknya pun muntah. Tapi tentu saja ada beberapa tetes yang sudah terlanjur masuk dan tidak bisa dimuntahkan lagi. 

Dan saat dewasa, anak itu tumbuh menjadi seorang yang sangat alim dan cerdas. Ia bahkan dinilai sebagai satu dari segelintir orang yang dijuluki dengan من أذكياء البشر (manusia tercerdas). 

Ialah Abu al-Ma'ali Al Juwaini yang dijuluki dengan Imam al-Haramain. Cukuplah menjadi bukti kehebatannya bahwa ia merupakan guru dari tiga tokoh yang sangat luar biasa yaitu Imam al-Ghazali, Imam al-Kiya al-Harrasi, dan Imam al-Khawafi.     

Tidak ada yang bisa mengalahkan Imam al-Haramain dalam berdebat. Orang yang bermunazharah dengannya akan terlihat sangat kerdil. Ibarat setetes air berhadapan dengan samudera yang sangat luas. 

Apapun bentuk pertanyaan, ia jawab dengan mudah dan dengan cara yang tak terpikirkan oleh orang lain. Yang paling menarik adalah jawabannya ketika ditanya, mengapa Rasululullah SAW bersabda, "Jangan lebih-lebihkan aku dari Yunus bin Matta." 

Namun demikian, beberapa kali ia sempat mengalami gugup dan agak berpikir sebelum memberikan jawaban. Ia berkata, "Ini gara-gara susu (sahabat ibunya) yang sempat masuk ke dalam tubuhku dulu."  

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA