Selasa 12 Jul 2022 08:30 WIB

Pajak Jadi Isu Utama Perebutan Kursi Perdana Menteri Inggris

Hampir semua kandidat PM Inggris menjanjikan pemotongan pajak bisnis dan pribadi.

Rep: Lintar Satria/ Red: Esthi Maharani
 Perdana Menteri Boris Johnson membacakan pernyataan di luar 10 Downing Street, London, secara resmi mengundurkan diri. Pajak menjadi isu utama dalam perebutan kursi pemimpin Partai Konservatif dan perdana menteri Inggris
Foto: AP/Alberto Pezzali
Perdana Menteri Boris Johnson membacakan pernyataan di luar 10 Downing Street, London, secara resmi mengundurkan diri. Pajak menjadi isu utama dalam perebutan kursi pemimpin Partai Konservatif dan perdana menteri Inggris

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Pajak menjadi isu utama dalam perebutan kursi pemimpin Partai Konservatif dan perdana menteri Inggris. Hampir semua kandidat menjanjikan pemotongan pajak bisnis dan pribadi.

Dalam deklarasinya maju dalam persaingan ini, Senin (12/7/2022) Menteri Luar Negeri Liz Truss mengatakan akan menurun kembali kontribusi Jaminan Nasional yang baru-baru ini dinaikan dan memberi sinyal memotong pajak perusahaan. Truss pernah duduk di berbagai posisi pemerintahan seperti perdagangan, kehakiman dan keuangan.

Baca Juga

Kandidat lainnya Jeremy Hunt dan Sajid Javid juga berjanji memotong pajak perusahaan. Sementara Menteri Pertahanan Penny Mordaunt berjanji memotong bea bahan bakar.

Mantan Menteri Keuangan Rishi Sunak salah satu kandidat yang menyatakan maju dari awal mengecilkan prospek segera memotong pajak. Ia mengatakan akan mengadopsi "dongeng yang menghibur" akan memberikan generasi masa depan lebih buruk.

Para kandidat yang lain menyerang rekam jejaknya setelah ia menaikan pajak ke tingkat tertinggi sejak 1950-an. Seorang anggota parlemen mengaku kritik rekam jejak Sunak bereda di grup Whatsapp anggota parlemen.

Nadhim Zahawi ditunjuk sebagai menteri keuangan pekan lalu tapi juga maju dalam persaingan untuk menggantikan Boris Johnson. Ia mengatakan lawan-lawannya juga mengincarnya setelah media mempertanyakan keuangan personal dan catatan pajaknya.

Siapa pun yang menang akan menghadapi tantangan yang berat. Inggris tengah menghadapi inflasi yang meroket, utang menggunung, dan pertumbuhan yang lambat. Keuangan masyarakat tertekan ke tingkat terburuknya dalam berpuluh-puluh tahun.

Sementara itu perang Rusia di Ukraina memicu krisis energi yang menaikan harga bahan bakar. Dalam isu imigrasi para kandidat unggulan berjanji mempertahankan kebijakan mengirimkan pencari suaka ke Rwanda, menunjukkan Partai Konservatif bergerak ke spektrum politik kanan dalam beberapa tahun terakhir.

Kandidat-kandidat lainnya antara lain jaksa agung Suella Braverman, Ketua komite luar negeri parlemen Tom Tugendhat, dan Menteri Transportasi Grant Shapps. Johnson menolak mendukung kandidat mana pun.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement