Sabtu, 20 Safar 1441 / 19 Oktober 2019

Sabtu, 20 Safar 1441 / 19 Oktober 2019

Utang Luar Negeri, Bikin Ngeri

Ahad 31 Mar 2019 08:05 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Petugas memantau pergerakan grafik surat utang negara di di Dealing Room Treasury.

Petugas memantau pergerakan grafik surat utang negara di di Dealing Room Treasury.

Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Dalam sistem ekonomi Islam utang uar negeri tidak jadi andalan apalagi yang riba

Jumlah utang pemerintah pusat hingga akhir Februari 2019 tercatat sebesar Rp 4.566,26 triliun. Jumlah ini meningkat sebesar Rp 531,46 triliun dibandingkan Februari 2018. Sungguh angka yang fantastis.

Baca Juga

Sebagian besar utang ini digunakan untuk menutup utang lalu beserta bunga, sisanya barulah digunakan untuk pembangunan. Hal ini memang biasa terjadi di negara yang menerapkan sistem ekonomi kapitalistik. Dimana pemasukan negara sangat bergantung kepada pajak dan utang luar negeri.

Tentu ini sangat mengerikan. Negara tak memiliki kemandirian, selalu bergantung kepada asing. Sedangkan rakyat, pasti melarat dengan tagihan pajak yang kian menyayat.

Berbeda dengan sistem ekonomi Islam, dimana tidak akan menjadikan utang luar negeri sebagai andalan terlebih mengandung keharaman (riba). Negara harus mandiri dalam finansial agar bebas dari tekanan. Dana didapat dari kepemilikan negara berupa 'usyur, ghanimah, jizyah, kharaj, fa'i dan lain sebagainya.

Juga dengan kepemilikan umum (SDA) berupa tambang, emas, perak, hutan, air, dan lain sebagainya. harta tersebut dikelola oleh negara dan hasilnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok rakyat berserta kebutuhan penunjang. Tentu kemandirian negara akan terjadi, kedaulatan pun akan terjaga tanpa harus terjerat utang ribawi.

Sayangnya saat ini justru harta tersebut justru dikuasai swasta bahkan asing dengan alasan liberalisasi. Inilah penyebab utama mengapa bangsa kita tak pernah usai dalam menyelesaikan utang.

Konsep sistem ekonomi islam sudah sangat jelas dan solutif tentu itu semua akan terwujud jika Islam diterapkan dengan sempurna. Wallahu a'lam.

Pengirim: Ihat Solihat, Aktivis Muslimah Kota Banjar

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA